Disiplin hidup orang mukmin ikut jadual Allah

Ada orang yang berpendapat, kita akan terkungkung atau hilang kebebasan bila ikut dengan peraturan Tuhan. Padahal dalam kehidupan nya manusia tidak lepas dari peraturan. Bila tidak ikut dengan peraturan Tuhan artinya ikut dengan peraturan manusia. Bahkan di dalam rumah atau keluarga kita pun tidak lepas dari peraturan. Kalau kita pindah ke rumah orang lain pun akan ada peraturan. Tentu kita akan Lebih suka dengan peraturan yang dibuat oleh ayah kita di rumah daripada peraturan yang dibuat dalam rumah orang lain.

sujud

Misalnya kita berada di rumah kita sendiri, tentulah program dalam rumah itu kita yang buat. Kalau kita pergi ke rumah orang lain, tentu programnya berlainan dengan di rumah kita. Apakah sama perasaan kita berada di rumah sendiri dengan berada di rumah orang lain. Tentu tidak. Jadwal hidup kita pun akan berbeda, di rumah sendiri dengan di rumah orang lain. Kalau kita paksakan jadwal hidup kita di rumah orang lain, tentu kita akan susah dan tidak tenang.

Kalau dunia ini kita rasakan kepunyaan kita, waktu yang 24 jam itu juga kepunyaan kita, kita yang mengatur, itulah yang membuat kita hidup di dunia ini tidak tenang
, susah, gopoh dsb. Itu yang membuat kita tidak stabil. Dunia kepunyaan Tuhan, waktu yang juga kepunyaan Tuhan kita programkan semaunya, tentu hidup kita akan jadi susah, sebab kita telah membuat jadwal untuk sesuatu yang bukan kepunyaan kita. Continue reading

Advertisements

Nabi Ibrahim dan Ismail – bukti cinta hamba kepada Tuhan-nya

aidil-adha

Berikut satu petikan kisah patriotik Nabi Ibrahim a.s dan anaknya Ismail yang diabadikan di dalam Al Qur’an. Semoga dapat menjadi motivasi kepada kita sehingga mampu berkorban apa saja untuk Allah swt :

———————————————————————————————————————————————–

Setelah Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s berpindah dari negeri kaumnya, beliau memohon kepada Allah s.w.t supaya dikurniakan seorang anak yang soleh, lalu Allah s.w.t mengembirakannya dengan mengurniakan seorang anak yang cantik iaitu Nabi Ismail a.s yang dilahirkan ketika Nabi Ibrahim a.s berumur 86 tahun. Setelah Nabi Ismail a.s meningkat dewasa, Nabi Ibrahim a.s telah bermimpi menyembelih anaknya, dimana telah ditetapkan bahawa mimpi para Nabi adalah Wahyu.

Ini merupakan ujian yang besar daripada Allah s.w.t terhadap Nabi Ibrahim a.s sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud:

Wahai anak kesayanganku! Sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu. ( QS 37:102 )

Lalu Nabi Ismail a.s menjawab sebagaimana firman Allah SWT, yang bermaksud:

Wahai ayahku! Jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapati aku dari kalangan orang-orang yang sabar. ( QS 37:102 )

Dikatakan kedua-duanya telah berserah diri sebagaimana firman Allah s.w.t, yang bermaksud:

Setelah keduanya berserah bulat-bulat (menjunjung perintah Allah itu) dan Nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan meletakkan iringan mukanya di atas tompok tanah. (Kami sifatkan Ibrahim dengan kesungguhan azamnya itu telah menjalankan perintah kami). ( QS 37:103 ) Continue reading

Allah SWT adalah modal kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam yang pertama ditangan Rasulullah SAW dan para sahabat, Islam terbangun dengan Allah SWT sebagai Pemodal. Tidak pernah ada sejarah Islam dapat bangkit selain Allah sebagai Pemodal.  Selama ini kita tersalah kalau beranggapan bahwa orang kaya sebagai pemodal.

kafilah2

Hakikatnya, tidak akan terjadi kebangkitan Islam seandainya kita mendapatkan uang dari orang kaya kemudian kita tidak mengatakan bahwa uang itu ialah dari Allah. Justeru itu orang kaya kalau hendak berperan serta dalam kebangkitan Islam, atau ingin selamat dari api neraka, pilihlah untuk membela Islam.

Seperti juga halnya orang bijak dan orang pandai menggunakan kepandaian untuk kebangkitan Islam dan juga orang miskin menggunakan tenaga untuk kebangkitan Islam.

Setiap orang diberikan peluang dan peranannya masing-masing oleh Allah SWT sesuai dengan kemampuannya. Bukan dilihat dari sudut pandang sebagai pemodal atau apa, tetapi kita harus melihat bahwa ini semua untuk menyelamatkan diri dari api neraka.

Pemodalnya tetap Allah, sebab itu Islam bukan terbangun atas nama orang kaya,  orang pandai atau orang bijak, tapi Islam terbangun atas nama Allah, Islam terbangun atas nama Rasulullah SAW sebagai utusan Allah dan pengurus bank Tuhan, anak kunci emas yang diciptakan Allah untuk pengeluaran uang dari Allah untuk modal kebangkitan Islam.

Memintalah pada Allah Pemodal kita, bertawasul dengan Rasulullah sebagai Pengurus Bank Tuhan, jagalah harga diri umat Islam, tak perlu kita berhutang pada musuh, kapitalis dan Yahudi.

———————————————————————————————

Pada suatu hari, saat Madinah sunyi senyap, tiba2 debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah perniagaan yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah. Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki.

Ketika Ummul Mukminin Sayidatina Aisyah RHA mendengar suara kafilah-kafilah itu datang, maka dia bertanya, “Apa yang sedang terjadi di Madinah?” Ada yang menjawab, “Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf yang baru datang dari Syam membawa barang perniagaan miliknya.” Continue reading

Kebangkitan Islam Bersama Cinta dan Akhlak

Rahsia kejayaan Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin dan salafussoleh dapat mengislamkan dunia adalah kerana mereka cintakan Allah lebih daripada cintakan dunia. Juga kerana mereka memberi tumpuan yang serius kepada Akhirat dengan membersihkan hati mereka. Mereka mampu menundukkan nafsu, lalu dunia jatuh terjelapak ke tangan mereka. Mereka serius membersihkan hati mereka melalui mujahadatunnafsi, riadatunnafsi, dengan disiplin serta barakah pimpinan Rasulullah SAW, maka mereka diberi Allah sifat-sifat hati yang bersih.

sufi-way

Kalaulah mereka tidak mengutamakan sifat-sifat terpuji (mahmudah) lebih daripada sifat-sifat terkeji (mazmumah) tentulah mereka bukan saja tidak dapat menegakkan empayar, hendak memerintah satu negara pun tidak akan berjaya. Bahkan memerintah satu kampung pun akan timbul pecah belah. Bahkan gagal untuk menawan walau satu hati pun.

Kalau masalah dalam diri tidak dapat diatasi, tidak selesai-selesai,apa logiknya untuk tawan hati orang lain? Lebih-lebih lagi apa logiknya untuk tawan hati manusia dalam satu empayar? Bukankah fitrah hati itu akan jatuh hati hanya dengan orang yang mempunyai akhlak terpuji?

Hakikat yang berlaku ialah bila mereka cintakan Allah dan cintakan Akhirat, di waktu itulah mereka mengorbankan hidup dan mati mereka untuk Allah. Seperti orang bercinta, dia sanggup beri apa saja demi menunaikan hajat cintanya. Begitulah hati mereka dengan Allah.

Hati, jantung, kaki, tangan serta seluruh anggota mereka gementar bila disebut nama Allah dan bila mendengar ayat-ayat-Nya. Mereka sangat cinta, rindu dan kasih kepada Rasul-Nya.

Bahkan hidup mati mereka diserahkan kepada Allah. Hati mereka sedikit pun tidak terpaut dengan dunia. Sedangkan di waktu yang sama, mereka mengurus dan mentadbir serta memerintah tiga perempat dunia.

Continue reading

Sudahkah Cinta Pada Allah ?

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. ( Al Anfaal : 2 )

Ada pepatah Melayu yang berbunyi “Tak kenal maka tak cinta”. Orang yang cintakan Tuhan itu ialah orang yang benar-benar kenal Tuhan dengan hatinya iaitu dia dapat rasa bertuhan. Dia bukan setakat tahu atau ada ilmu tentang sifat-sifat Tuhan tetapi dia boleh merasakan sifat-sifat Tuhan itu dihatinya. Orang seperti ini dinamakan al ’arifbillah.

Kalau hanya setakat tahu sifat-sifat Tuhan, kita tidak dapat cinta pada-Nya. Tahu atau ilmu itu baru diakal. Walhal Tuhan bukanlah entiti yang boleh dijangkau oleh akal. Kita mesti kenal Tuhan melalui hati iaitu dapat merasarasakan sifat-sifat Tuhan itu. Contohnya, kalau kita tahu Tuhan Maha Melihat, maka kita kena rasa sungguh-sungguh di hati bahawa Tuhan itu benar-benar melihat apa sahaja yang kita lakukan. Alat untuk mengenal Tuhan itu ialah hati.

Allah itu mempunyai segala sifat-sifat yang Maha Sempurna, tidak seperti manusia. Sebab itu, ada manusia, kalau kita kenal dia, kita suka padanya. Ada pula manusia, kalau kita kenal dia, kita benci padanya. Ini kerana manusia itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Tetapi kalau kita kenal Tuhan, wajib bagi kita jatuh hati dan cinta pada-Nya kerana sifat-sifat Tuhan itu penuh kesempurnaan. Tuhan itu Maha Baik.

Siapa kenal Tuhan, pasti dia cinta Tuhan. Siapa cinta Tuhan, pasti dia kenal Tuhan. Siapa tidak cinta Tuhan, tanda dia belum kenal Tuhan.

Mind of Abuya : Sacrificing The Feeling Of One Jihad

– Abuya Imam Ashaari At Tamimi during expedition in Uzbekistan –

Human beings are creatures with emotions. When we mention emotions, these are feelings that are based in the spiritual heart and are trapped in the physical heart.

These emotions include love, hate, disgust, sympathy, anger, vengefulness, yearning, shame, pride, arrogance, fear, guilt and indecisiveness.

Emotions are part of the natural instinct or habits of human beings, are not easy to guide, discipline or manage because there are the positive and negative. The positive have to let free, while the negative have to be reined in.

Letting go of the positive is a sacrifice, as is the reining in of the negative. Sacrificing emotions is considered a type of struggle or jihad, which is spiritual jihad. In fact it is even greater than the sacrifice of physical things such as energy, wealth and even life.

Sacrifice of the physical will not happen unless one starts with sacrificing the spiritual. It is from the spiritual that the physical can occur. If one cannot even sacrifice the spiritual, then they would definitely not be able to sacrifice the physical. Truth be told, sacrifice the physical is but implementation of spiritual sacrifice. In other words, sacrificing the physical is the result of the spiritual sacrifice, which is sacrificing emotions.

In needs to be remembered that in order to obtain Allah Taala’s acceptance (keredhaan) sacrifices have to be made. Without sacrifice, there is no acceptance. Without sacrifice, it is all but fanciful daydreams and nonsense. Without sacrifice, there would be no success in this world or the next.

Sacrificing emotions is very difficult to do. It hurts a great deal and the burden of its challenge bears heavily. Here I present a few examples:

We love our husband. We love that he would just stay at home taking care of us. Would it be easy for us to sacrifice our love so that he would be able to go out and continue on his responsibility to struggle for God, until he has to leave the home for quite some time.

Continue reading