Beberapa kisah mengenai Tabarruk para Sahabat r.a terhadap Rasulullah s.a.w

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN RAMBUT DAN KUKU NABI

1. Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya pada Kitab l-libas (bab pakaian) dalam pasal berjudul “Tentang rambut abu-abu”, bahwasanya ‘Usman ibn Abd Allah ibn Mawhab mengatakan: “Keluargaku mengirim diriku pergi ke Ummu Salama dengan secangkir air. Ummu Salama membawa keluar suatu botol perak yang berisi sehelai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam, dan biasanya jika seseorang memiliki penyakit mata atau kesehatannya terganggu, mereka mengirimkan secangkir air kepadanya (Ummu Salama) agar ia mengalirkan air itu lewat rambut tersebut (dan diminum). Kami biasa melihat ke botol perak itu dan berkata, ‘Aku melihat beberapa rambut kemerahan’”.

2. Anas berkata, “Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur kepalanya (setelah hajj), Abu Talha adalah orang pertama yang mengambil rambutnya” (Hadits Riwayat Bukhari).

3. Anas juga berkata: “Nabi sall-Allahu álayhi wasallam melempar batu di al-Jamra, kemudian ber-qurban, dan menyuruh seorang tukang cukur untuk mencukur rambut beliau di bagian kanan lebih dulu, lalu memberikan rambut tersebut pada orang-orang” (Hadits Riwayat Muslim).

Dia berkata: “Talha adalah orang yang membagi-bagikannya”. (Hadits Riwayat Muslim, Tirmidhi, dan Abu Dawud).

Dia juga berkata: “Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau sall-Allahu álayhi wasallam memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawa ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau sall-Allahu álayhi wasallamyang berasal dari sisi kiri kepala beliau sall-Allahu álayhi wasallam, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad).

4. Ibn al-Sakan meriwayatkan lewat Safwan ibn Hubayra dari ayah Safwan: Tsabit al-Bunani berkata: Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya): “Ini adalah sehelai rambut Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku.” Thabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya.”

5. Abu Bakr berkata: “Aku melihat Khalid ibn Walid meminta gombak (rambut bagian depan) Nabi sall-Allahu álayhi wasallam, dan dia menerimanya. Dia biasa menaruhnya di atas matanya, dan kemudian menciumnya.” Diketahui bahwa kemudian dia menaruhnya di qalansuwa (tutup kepala yang dikelilingi turban) miliknya, dan selalu memenangkan perang. (riwayat Al-Waqidi di Maghazi dan Ibn Hajar di Isaba).

Ibn Abi Zayd al-Qayrawani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata: “Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qalansiyya yang berisi beberapa helai rambut Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam, dan itulah yang dipakainya pada perang Yarmuk.

6. Ibn Sirin (seorang tabi’in) berkata: “Sehelai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi.” (riwayat Bukhari, Bayhaqi dalam Sunan Kubra, dan Ahmad)

7. Dalam Shahih Bukhari, vol 7, kitab 72, no. 784, Utsman bin Abd-Allah ibn Mawhab berkata, “Orang-orangku mengirim semangkuk air ke Umm Salama.” Isra’il memberikan ukuran tiga jari yang menunjukkan kecilnya ukuran wadah yg berisi beberapa helai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam. Utsman menambahkan, “Jika seseorang sakit karena suatu penyakit mata atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Umm Salama (dan dia akan mencelupkan rambut Nabi ke dalamnya dan air tersebut akan diminum).

Aku melihat ke wadah (yang berisi rambut Nabi) dan melihat beberapa helai rambut kemerahan di dalamnya.”

Hafiz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, Vol. 10, hlm, 353, mengatakan: “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi itu sebagai jiljalan dan botol itu disimpan di rumah Umm Salama.”

Hafiz al-’Ayni berkata dalam ‘Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79: “Umm Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Umm Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Umm Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal.”

8. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya (4:42) dari Abd Allah ibn Zayd ibn ‘Abd

Rabbih dengan sanad yang shahih seperti yang dinyatakan oleh Haythami dlm Majma’ al-Zawaid, bahwa Nabi sall-Allahu álayhi wasallam memotong kukunya dan membagikannya ke orang-orang.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KERINGAT RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM

1. Anas berkata: “Nabi sall-Allahu álayhi wasallam tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan keringatnya dalam suatu bejana. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam terbangun dan bertanya, “Wahai Umm Sulaym, apa yang kau lakukan?” Dia (Umm Sulaym) menjawab, “Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami dan itu adalah parfum terbaik.” (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad).

Ketika Anas terbaring menjelang wafatnya dia menyuruh agar sebagian dari bejana itu digunakan saat upacara sebelum penguburannya, dan memang dipakai seperti yang ia suruh. (Hadits Riwayat Bukhari)

Ibn Sirin juga diberikan sebagian dari bejana milik Umm Sulaym. (Hadits riwayat Ibn Sa’d)

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN SALIVA (AIR LUDAH) NABI DAN AIR WUDHU’ BELIAU

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang ini amatlah banyak. Antara lain dapat dilihat di karya Syaikhul Muhadditsiin Imam Ibn Hajar al-Asqalany, Fath al-Bari 1989 ed. 10:255-256.

1. Dalam Bukhari dan Muslim: Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi sall-Allahu álayhi wasallam untuk digunakan membasuh muka mereka.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata: “riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihi al-tabarruk bi atsar al-salihin).

2. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam biasa menggunakan saliva-nya untuk menyembuhkan penyakit, saliva beliau dicampur dengan sedikit tanah, dan diikuti kata-kata.

“Bismillah, tanah dari bumi kita ditambah dengan air liur dari orang-orang yaqin di antara kita akan menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam pernah menyuruh setiap orang di Madina kemudian Makkah untuk membawa bayi-bayi mereka yang baru lahir, kepada siapa beliau sall-Allahu álayhi wasallam membacakan doa dan memasukkan campuran nafas dan ludah (nafs wa tifl) beliau ke dalam mulut bayi-bayi itu. Beliau kemudian memerintahkan pada ibu-ibu mereka untuk tidak menyusui sampai malam.

[Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, Bayhaqi dalam Dala’il Nubuwwah, Waqidi, dll].

Nama-nama lebih dari 100 orang Ansar dan Muhajirin yang menerima barokah khusus ini diketahui lengkap dengan isnadnya.

Sumber : http://blog.its.ac.id/syafii/2009/05/04/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan/

Letter from Caliph Umar to River Nile

nile23

There was a time when Egypt was conquered by Muslims, Caliph Umar Al-Khattab put Amru Al-Ash as the governor of that new Muslim territory. Amru Al-Ash was famous as a valiant commander and an efficient and wise administrator.

After some period, the month of Bowana (June) came. At the beginning of the month a delegation of the “Qabti” tribe met the governor and said that one habit of the river Nile is such that if not fulfilled it (the Nile) stops flowing.

The governor asked. “What’s that?”.

They said: “After 12 nights of this month Bowana (June) has passed, we grab a beautiful young girl, persuade her parents, decorate this young girl with good clothes and jewelry and put her in the river Nile. After that the river flows with full force”

Continue reading

GOD The Most Supreme Entertainer

Islam came to the world to entertain human beings. Here is the beauty of Islam, as Islam is entertaining. The Greatest entertainer of all is God, the Most Supreme. When one recognises God and understands His actions, then God is very delightful and entertaining. God the Supreme Entertainer.

As an example, with all the common things we face, unrealising, the air we breathe comes from God. Without air, we die and we do not realise, this is entertainment. When God restricts the air, there is no entertainment.

The earth we step on is God`s creation. If we were to look up at the blue sky, God`s sky, it`s a pleasant sight. Looking at the beautiful green scenery. We visit the market looking for fresh fish, meat and vegetables, all these are entertaining.

But we do not realise it`s entertaining and it has never been mentioned. We simply look at things around us without putting any value to what we see. Continue reading

Nostalgia Di Bumi Anbiya’ – SYRIA / SYAM

Syria yang dulunya terkenal dengan sebutan Syam adalah tempat yang menjadi medan perjuangan para Rasul terdahulu. Malah Rasulullah SAW pernah datang berdagang ke sini ketika zaman kecil dan remaja baginda. Syria menyimpan banyak khazanah dan tempat–tempat bersejarah ,baik sejarah kehidupan sebelum dan awal masihi mahupun sejarah kekhalifahan Islam kerana Damsyik sebagai ibu kota Syira adalah merupakan pusat kekhalifahan Bani Umayyah pada 661M.

Sejarah merakamkan dua empayar Rom dan Parsi kalah di atas pangkuan para-para sahabat yang gagah., meskipun bilangan mereka sedikit tapi dengan Taqwa ALLAH membantu mereka membebaskan kota damsyiq dari kekejaman dan kekufuran kaisar bizantium (Romawi Timur).

Sewaktu pemerintahan islam bermulanya dengan Bani Umayyah, bahasa arab telah menjadi bahasa rasmi menggantikan bahasa yunani pada masa bizantium. Setelah itu Syria bekali-kali mengalami pergantian penguasa dari Islam, Tentera Salib Monggol, Mamluk, Othmaniah dan hinggalah dijajah oleh Perancis pada perang dunia 1 .

Pada masa kekuasaan Islam di bawah di bawah pemerintahan Bani Umayyah, Damsyik mencapai kemuncak kejayaannya sewaktu dijadikan ibu kota dan pusat pemerintahan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan.

Muka bumi Syria terdiri dari bukit-bukit batu dan padang pasir. Mengalami 4 musim. Tanahnya yang subur kaya dengan sumber pertanian.

————————————————–

KARAK – ( satu tempat bersejarah di Syam yang mengingatkan kita pada sejarah Perang Muktah – Zaid Al Harithah – Jaafar Abi Thalib – Abdullah Rawahah – Nabi Nuh – Nabi Sulaiman – Zaid bin Ali Al Hussein )

 

Antara peperangan yang penting dan hebat ketika Rasulullah saw masih hidup ialah peperangan Muktah (629m). Ianya mengorbankan ramai para sahabat terdekat, yang syahid didalam pertempuran menentang tentera gabungan anatara Byzantine dan Ghassanid. Anda boleh menziarahi makam para sahabat seperti Zaid bin Harithah ra, Jaafar bin Abu Thalib ra, dan Abdullah bin Rawahah ra di Bandar Al Mazar AlJanubi berhampiran Karak.

Anak angkat Nabi Muhammad, iaitu Zaid bin Harithah telah mengetuai tentera Muslimin dalam peperangan Muktah. Beliau berjuang dengan tiada tolok bandingnya, penuh keberanian sehinggalah beliau gugur sebagai syahid. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang disebut didalam AlQuran. Didalam surah 33 ayat 37

“ Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kahwinkan kamu dengan dia (habis iddah), supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin utk mangahwini isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya.Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi”.

Wakil Panglima Tentera, Saidina Jaafar Abi Talib merupakan sepupu kepada Nabi Muhammad saw, yang menggantikan Zaid memegang panji Islam, Saidina Jaafar digelar ‘Jaafar At Tayar’ kerana telah kehilangan kedua belah tangannya ketika mempertahankan panji-panji Islam semasa didalam peperangan. Jaafar dikatakan memiliki ciri-ciri dan watak yang hampir sama dengan Rasululah saw. Beliau terkenal sebagai seorang yang murah hati terhadap golongan miskin dan juga merupakan antara perawi hadis terus daripada Rasulullah. Jaafar juga dilantik bagi memimpin kaum Muslimin untuk berhijrah ke Abyssinia / Habsyah (Ethiopia). Continue reading

Putera Bani Tamim Dalam Hadis – Datangilah Mereka Walau Terpaksa Merangkak Di Atas Salji

Links : Putera Bani Tamim , Imam Mahdi dan Kegemilangan Umat Akhir Zaman, The Banning of Darul Arqam

Ibnu Mas’ud RA meriwayatkan bahawa,

“Kami mendatangi Rasulullah SAW dan baginda keluar dengan membawa berita gembira, dan kegembiraan itu terbayang pada wajahnya. Kami bertanya kepada baginda perkara yang menggembirakan itu dan kami tidak sabar untuk mendengarnya.

Tiba-tiba datanglah sekumpulan anak-anak muda Bani Hasyim yang di antaranya adalah al-Hasan dan al-Husain RA. Apabila terpandangkan mereka, tiba-tiba kedua-dua mata baginda berlinangan lalu kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang kami tidak sukai pada wajahmu.”

Baginda menjawab, “Kami Ahlulbait, telah Allah pilih akhirat kami lebih dari dunia kami. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehingga datanglah Panji-­panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan.

Sesiapa di antara kamu atau keturunan kamu yang hidup pada masa itu, datangilah Imam dari ahli keluargaku walau terpaksa merangkak di atas salji. Sungguh, mereka adalah pembawa Panji-panji yang mendapat hidayah. Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya seperti namaku, dan nama bapanya seperti nama bapaku. Dia akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan.”

(Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abus Syeikh, Ibnu Adi, Abu Dhabi, Ibnu Asakir & Abu Nuaim)

“Akan keluar dari sulbi ini seorang pemuda yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini demikian itu, hendaklah kamu bersama Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan Dialah pemegang Panji Panji Al Mahdi. ” (Riwayat Ahmad)

Salah satu karamah terbesar Pemuda Bani Tamim ialah membawa hidayah yang merata kepada seluruh umat Islam dan semua manusia. Melaluinya, Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada semua manusia, sama seperti yang diperbuat oleh Allah melalui Rasulullah SAW. Hanya bezanya Rasulullah SAW membawa hidayah sebagai suatu mukjizat, sedangkan Pemuda Bani Tamim membawa hidayah sebagai suatu keramat. Dan peranannya membawa hidayah ini sudah dinyatakan oleh baginda SAW dalam hadis di atas.

Rasulullah SAW menyebutkan bahawa golongan Ahlulbait akan menerima dua ujian iaitu pertama, bencana dibunuh dan ditekan oleh pemerintah-pemerintah mereka, dan yang kedua ialah disingkirkan dari tanah air mereka. Ujian pertama itu sudah berlaku sejak awal Islam lagi, dimulai dengan terbunuhnya Sayidina al-Husain RA di Padang Karbala dan seterusnya hinggalah berakhir zaman pemerintahan Bani Abbasiah di Baghdad. Yang kedua iaitu disingkir dari tanah air mereka telah juga berlaku iaitu sejak Bani Saud mengambil alih kekuasaan di seluruh Hijaz dan sebahagian besar Semenanjung Tanah Arab.

Pemuda Bani Tamim juga disebutkan menerima ujian yang sangat berat dan tugas yang sangat besar, mengikut tahap yang telah disebutkan oleh hadis. Tahap yang disebutkan oleh hadis itu adalah;

MEREKA MEMINTA KEBAIKAN
Maksudnya mereka menyeru manusia kembali kepada ajaran Islam yang sebenar, iaitu Islam yang diasaskan pada tiga ilmu yang fardhu (tauhid, fekah dan tasawuf) sehingga manusia menjadi baik zahir dan batinnya. Itulah yang dimaksudkan dengan kebaikan di sini. Juga boleh dimaksudkan dengan beliau membina jemaah Islamnya sendiri sehingga menjadi sebuah jemaah yang besar dan hebat, sebuah jemaah yang mampu menzahirkan kebenaran, bukan semata-mata mampu memperkatakannya.

Islam mereka adalah Islam praktikal, bukan Islam teori. Maksudnya ialah Islam yang hidup dalam dunia nyata, bukan sekadar Islam tempel atau Islam kulit. Islam itu adalah Islam yang menyeimbangkan antara syariat zahir dengan syariat batin, melalui rasa bertuhan yang tinggi. Juga Islam yang menyeimbangkan antara keperluan dunia dengan keutamaan akhirat. Maksudnya setiap yang mereka buat adalah untuk akhirat, tetapi dunia yang tidak sia-sia tetap dibuat, dengan niat untuk akhirat. Tamadun akhirat menjadi keutamaan bagi mereka, dan sebagai hasilnya tamadun dunia akan terbina dengan sendirinya. Itulah sebahagian kecil erti mereka meminta kebaikan seperti yang disebutkan oleh hadis Nabi SAW.

TIDAK DIBERIKAN”nya”.
Nya di sini menunjukkan seorang atau sekumpulan orang. Dan Nya yang dimaksudkan adalah orang atau orang-orang yang mempunyai kuasa atau ilmu atau cantuman kedua-duanya sekali. Jika orang biasa, mustahil mereka dapat menghalang usaha dakwah yang memang sentiasa mampu menarik manusia kembali kepada ajaran Islam sebenar itu. Maka orang inilah atau kumpulan inilah yang berusaha keras menentang usaha-usaha dakwah Pemuda Bani Tamim, sehingga mereka sanggup menyeksa dan memperlakukannya sedemikian kejam sedangkan mereka sendiri tiada bukti dan alasan untuk memperlakukannya demikian. Namun, itulah kehendak Allah SWT seperti yang tersurat di dalam takdir-Nya.

MEREKAPUN BERJUANG.
Berjuang di sini bukan bermaksud berjuang dengan pedang atau senjata moden yang lain. Islam tidak akan dapat ditegakkan oleh sesiapa pun dengan menggunakan senjata pedang semata-mata. Belum pernah lagi terjadi dalam sejarah, ajaran Islam dapat ditegakkan semata-mata dengan pedang, iaitu memaksa-maksa orang lain menerima Islam. Sebenarnya ada senjata yang lebih berkuasa dan lebih tajam dari pedang iaitu dakwah yang berhikmah dan bi lisanul hal. Maksud berjuang juga adalah berjuang memperbaiki diri dan ibadat kepada Allah SWT sambil berusaha bersungguh-sungguh meninggalkan setiap yang boleh mendatangkan dosa sehingga menghijab hubungan antara mereka dengan Allah. Mereka takut dikeranakan dosa mereka itu, perjuangan mereka tidak dibantu oleh Allah lalu mereka Allah biar dikalahkan oleh musuh-musuh mereka.

MEREKA MEMPEROLEH KEJAYAAN.
Hasil mujahadah nafsu dan muhasabah dosa mereka itu, Allah berkenan membantu mereka sehingga perjuangan mereka itu berjaya. Berjaya di sini dimaksudkan dengan berjaya mengalahkan nafsu jahat mereka sendiri sehingga nafsu mereka dapat ditundukkan kepada Allah, berjaya mencapai taraf soleh dan solehah malah ada yang menjadi wali Allah, sangat berjaya dalam setiap bidang yang diceburi, berjaya membina tamadun mereka yang tersendiri, dan berjaya mengajak masyarakat agar kembali kepada Allah dan mengamalkan ajaran agama Islam yang sebenar dalam diri masing-masing. Continue reading

Tentang Kepemimpinan (II): Pemimpin Bayangan Rasullah

Seluruh alam semesta ini adalah milik Tuhan. Manusia diberi amanah untuk menjadikan alam semesta ini sebagai alat untuk mentaati Tuhan. Semua keperluan manusia yang Tuhan sediakan, tidak lain kecuali untuk manusia melihat kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sekaligus merasakan betapa kerdilnya diri, lantas tunduk dan patuh kepada Tuhan.

Namun, nafsu sering menyelewengkan maksud dan tujuan Tuhan tersebut, nafsu senantiasa saja menjadikan manusia hanya tertumpu kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan tetapi melupakan Tuhan yang menciptanya.
Lantaran itulah Tuhan utus para Rasul. Yang tujuan utamanya adalah mengembalikan tujuan asal penciptaan manusia yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan. Bahkan Tuhan jadikan fitrah semula jadi manusia itu mengenali Tuhan. Fitrah itulah yang dibongkar oleh para Rasul.

Selepas ketiadaan para rasul, tugas membawa manusia kepada Tuhan dilakukan oleh para ulama dan pejuang Islam khususnya mereka yang berwatak Rasul. Sebab mana mungkin seseorang itu membuat kerja-kerja rasul kalau dia tidak mewarisi watak-watak rasul. Jadi kejayaan mereka sangat bergantung kepada sejauh mana mereka mewarisi sifat-sifat, ciri-ciri akhlak dan kepribadian para rasul.

Artinya mereka yang berhasil hanyalah mereka dari kalangan yang menjadi salinan dan foto cofy kepada kepribadian Nabi SAW. Tentulah tidak akan mencapai 106 % kesempurnaan pribadi Rasulullah SAW Sifatnya
sebagai salinan tentulah apa yang dimiliki lebih nipis atau lebih rendah persentasenya, tetapi apa saja yang dimiliki oleh Rasulullah SAW itu jugalah yang dimilikinya. Ini berarti bahwa dirinya adalah bayangan Rasulullah SAW Pada diri Rasulullah SAW itu adanya tanda-tanda atau sifat-sifat ketuhanan (ayatullah) yang paling tebal dan sempurna. Melihat pribadi dan akhlaknya, fitrah rasa bertuhan pada manusia amat mudah terbongkar sehingga denganitu manusia dapat merasa bertuhan.

Contohnya dengan melihat pengasihnya Rasulullah SAW, manusia akan dapat merasa betapa pengasihnya Tuhan. Demikian juga sabarnya, pemurahnya, kasih sayangnya dan lain-lain, menjadikan manusia jatuh cinta kepada Tuhan yang mempunyai sifat-sifat yang maha Agung lagi maha sempurna itu.

Maka begitulah Tuhan jadikan kepada pernimpin bayangan Rasulullah SAW di sepanjang zaman. Sehingga dengan itu tidak putuslah manusia ini dari adanya orang yang dapat membawa manusia kepada Tuhan. Manusia terasa indah serta cepat dapat terbongkar rasa bertuhan apabila bertemu dan berdamping dengan pemimpin yang mempunyai akhlak bayangan Rasulullah SAW

NOSTALGIA MADINAH – Doa Untuk Madinah Kedua Di Akhir Zaman

Kedatangan Rasulullah ke Madinah telah ditunggu-tunggu dengan penuh harap. Berita kedatangan Rasulullah SAW sudah terdengar di Madinah, tapi karena Rasulullah SAW tiga hari berada di Gua Thur dan tidak melalui jalan biasa, jadi orang tidak tahu kapan tepatnya Rasulullah SAW akan sampai. Tapi setiap hari orang-orang Madinah dan Saidina Mus’ab bin Umair menunggu-nunggu kedatangan manusia yang paling mulia disisi Tuhan yaitu Rasulullah SAW.

Saidina Mus’ab sudah mempersiapkan suasana untuk penyambutan Rasulullah SAW. Setiap hari setelah shalat subuh, orang-orang Madinah selalu beramai-ramai keluar ke pintu masuk Madinah untuk menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Ketika tiba waktu zuhur, kembalilah mereka untuk pulang. Begitulah mereka setiap hari menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Bahkan bukan orang islam saja yang menunggu, tetapi orang yahudi Madinah pun ikut menunggu ketibaan manusia paling mulia ini.

Kedatangan Rasulullah SAw bukan saja sebagai Nabi tetapi juga sebagai pemerintah dan pemimpin. Penyambutan kedatangan Rasulullah ini merupakan program besar di Madinah. Rasulullah tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal, hari Isnin. Pada hari itu seperti biasa orang Madinah menunggu kedatangan Rasulullah SAW sejak subuh sampai tengah hari. Ketika matahari sudah tinggi mereka mulai beranjak pulang dan besok akan datang lagi untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW.

Di saat mereka sudah mulai bubar, ada seorang Yahudi yang menunggu atas pohon kurma tiba-tiba menjerit dan memanggil seluruh orang Madinah. Dia berteriak ketika melihat dari kejauhan Rasulullah SAW dan Saidina Abu Bakar sedang menuju Madinah. Mereka pun kembali untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Mereka sangat gembira dan terharu. Mereka semua menyambut sambil bernasyid:

Thola ‘al badru ‘alaina min tsniyyatil wada’ …
(telah datang bulan purnama pada kami dari Tsaniyatil Wada’)

Begitulah bagi manusia, Rasulullah SAW bagai cahaya benderang yang datang di tengah kegelapan yang gulita. Kebanyakan orang Islam waktu itu belum pernah bertemu Rasulullah SAW, jadi mereka tidak kenal yang mana Rasulullah SAW dan yang mana Saidina Abu Bakar. Apalagi Rasulullah SAW dan Saidina Abu Bakar tidak jauh umurnya. Walaupun belum pernah bertemu tetapi mereka memberikan keimanan yang solid kepada Rasulullah SAW. Continue reading

Kearah Negara Yang Bertaqwa…

Pada masa khalifah Sayidina Abu Bakar As-Siddiq r.a. Sayidina Umar Al Khattab r.a memegang jawatan Khadi ( Hakim ). Suatu hari Sayidina Umar mengemukakan satu usul kepada Khalifah Abu Bakar r.a. Berkata Sayidina Umar, “aku memohon dibebaskan dari jawatan ini”.

Khalifah Abu Bakar r.a sungguh terkejut mendengar usul Sayidina Umar tersebut dan bertanya, “terlalu beratkah tugas tersebut, ya Umar?”

Sayidina Umar menjawab, “Tidak ya Khalifah Rasulullah. Tetapi aku sudah tidak diperlukan untuk menjadi Khadi kepada Kaum Muslimin. Mereka semua sudah bertaqwa dan tahu kewajipan masing-masing sehingga tiada yang menuntut lebih daripada haknya.

Mereka tahu kewajipan sehingga tiada seorang pun yang merasa perlu menguranginya. Mereka menyintai saudaranya yang lain seperti menyintai dirinya. Kalau salah seorang tidak hadir, mereka mencarinya. Kalau ada yang sakit mereka menziarahinya. Kalau ada yang tidak mampu, mereka membantunya. Kalau ada yang memerlukan pertolongan, mereka segera menolongnya. Kalau ada yang kena musibah mereka menyampaikan rasa dukacita. Agama mereka adalah nasihat. Continue reading

Rahasia Disebalik Kelahiran Rasulullah SAW

flower_22.jpg

“ Rasulullah SAW Sumber Limpahan Rahmat”

”Kelahiran Rasulullah SAW merupakan satu peristiwa sejarah yang paling besar dan paling agung yang pernah berlaku di dunia ini. Tiada sejarah yang lebih besar, penting dan agung selainnya, sama ada sebelum atau sesudahnya. Ia adalah sejarah yang telah merubah watak dan peradaban manusia.

Justeru itu, sejarah Rasulullah SAW adalah satu peristiwa yang luar biasa, mengandungi rahsia-rahsia dan perkara yang tersirat pada setiap yang ada hubungkait dengannya walau satu titik, lebih-lebih lagi satu huruf dan satu perkataan. Padanya terkandung rahsia Tuhan yang patut kita kaji dan serlahkan. Mari kita cungkil rahsia dan hikmah di sebalik tarikh kelahiran baginda iaitu:

Sebelum Fajar, Isnin, l2 Rabi’ul Awwal, Tahun Gajah.”

Kedatangan Rasulullah SAW membawa rahmat. Sebelum fajar bererti kegelapan sudah akan berakhir dan cahaya adalah umpama rahmat Allah yang akan menjelma.

Isnin dari bahasa Arab bererti dua.

Di saat kelahiran baginda, akidah manusia sudah rosak kerana sudah lama ketiadaan Nabi dan Rasul. Hanya dua yang mengenal Tuhan; Zat Tuhan itu sendiri dan baginda Rasulullah SAW. Itulah isyarat dari Tuhan di sebalik kelahirannya pada hari Isnin. Justeru, keIslaman seseorang hanya sah apabila dia mengakui dan menyebut kedua-duanya.

Jika dirujuk pada malam, ia adalah kemuncak kegelapan.

Ertinya waktu kelahiran baginda, segala perkara negatif berada di tahap puncaknya.

Jika dirujuk pada siang, ia adalah seterang-terang cahaya matahari.

Ertinya kedatangan baginda membawa rahmat dari Tuhan untuk segala alam, bukan hanya untuk manusia, bahkan binatang, kayu kayan, batu batan dan seluruh ciptaanNya. Berkat cahaya rahmat itu, seluruh makhluk mendapat pembelaan dan tidak boleh diperlakukan sesuka hati.

Jika dirujuk pada bulan, ia adalah kemuncak bulan dalam setahun.

Ertinya baginda adalah penutup dan kemuncak para Rasul. Rasul terdahulu didatangkan untuk sesuatu kelompok dan zaman sedangkan Rasulullah SAW didatangkan untuk semua etnik, berlanjutan hingga berzaman.

Jika dirujuk pada bintang, ada bintang 12 yang mana ia adalah bintang yang paling terang di antara beribu bintang yang ada.

Ertinya kelahiran Rasulullah SAW membawa syariat yang lengkap, petunjuk dan rahmat yang lengkap dari dunia hingga akhirat. Ajaran yang dibawanya paling sempurna berbanding ajaran Rasul-Rasul sebelumnya.

cldbo-flowerwasp4.jpg

Rabi’ dari bahasa Arab bererti musim bunga.

Kedatangan baginda menjadi contoh akhlak yang mulia dan akhlak yang agung adalah umpama bunga yang cantik dan indah di awal musim bunga.

Tahun Gajah. Ia dikaitkan dengan Abrahah dan tentera bergajahnya dari Yaman. Sewaktu dia menyerang Ka’bah, dia telah merampas harta benda termasuk kambing-kambing bapa saudara baginda, Abu Thalib dan datuknya Abdul Muthalib. Akhirnya Abdul Muthalib keluar lalu bersemuka dengan Abrahah. Beliau meminta supaya dipulangkan semula kambingnya kerana ia adalah miliknya. Manakala tentang Kaabah, beliau berkata terpulanglah kerana Ka’bah itu bukan miliknya tetapi milik Allah.

Jadi, di sini, terbuka rahsia bahawa keluarga Rasulullah saw masih beragama dengan agama Nabi Ibrahim. Ertinya keturunan baginda terpelihara, bersih dan dijaga oleh Allah.

Rabi’ul Awwal : Kenalilah Ciptaan Allah Yang Paling AGUNG…

 

Nadzam Maulid di bawah ini adalah karya

Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi

yang ditulis dalam bahasa Melayu

green-dome-madina.jpg

Mari kita bercerita tentang Nabi kita,
Yaitu Rasulullah SAW, penyelamat manusia dunia akhirat,
Walaupun sebelum ini kita telah menceritakan banyak kali tentangnya,
Mungkin kita ceritakan disudut-sudut lain yang belum diceritakan lagi,
Kalau pun diceritakan lagi banyak kali tidak mengapa,
Supaya yang lupa diingat kembali,
Bertambah ingat lagi,

Nabi Muhammad SAW orang luar biasa yang tidak ada taranya
Sebelum dan sesudahnya dikalangan manusia,
Sekalipun dikalangan para rasul dan para nabi yang telah diberita,
Dia adalah rohnya malaikat dan tubuhnya manusia,

Orang paling cerdik dan paling bersih rohnya,
Dikalangan manusia sebelum dan sesudahnya,
Maka dia diberi julukan oleh Tuhan ‘fathonah’,
Bahkan yang paling ‘Fathonah’ dikalangan rasul-Nya,
Ilmunya bukan didapati dari aqalnya,
Walaupun dia orang yang paling tajam aqalnya,
Dia mendapat ilmu dijatuhkan Tuhan didalam hatinya,
Wahyu namanya, dia belajar langsung dari Tuhannya,
Kerana inilah dia tidak perlu menulis
Dan membaca seperti manusia biasa,
Kerana itulah ilmunya tidak dilupa sepanjang masa,
Kalau dari aqal mungkin dilupakannya,
Ilmunya menceritakan dunia dan akhirat,

Tawakalnya luarbiasa,
Sebab itulah dimalamnya makanan tidak disimpan untuk esok harinya
Dan diberikan kepada manusia yang memerlukannya
Kerana dia yakin, kalau esoknya dia hidup
Tuhan merezekikannya,

Dia tidak membunuh orang,
Walaupun disetengah-setengah waktu dia boleh membunuhnya,
Tapi dia tidak membunuhnya,
Dia mengambil jalan yang utama,
Yaitu memaafkannya,
Kerana itu orang itu Islam ditangannya,


Beraninya luarbiasa
tiada tandingannya,
Dia sanggup lewat dihadapan musuhnya seorang diri,
Musuhnya tidak mengapa-apakannya bahkan terpinga-pinga,

Kasih sayangnya sangat ketara,
Terutama kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan janda-janda,
Orang yang bersalah dimaafkannya,
Sekalipun orang itu tidak memintanya,
Pernah hamba sahaya hendak dihukum oleh tuannya,
Dia membuka bajunya untuk disebat,
Pengganti hamba sahaya, tuan hamba sahaya itu malu dibuatnya,
Lalu dimerdekakannya,
Pernah Rasulullah SAW membeli hamba sahaya kemudian dimerdekakannya,

Pemurahnya tidak ada taranya,
Macam angin kencang lajunya,
Tiada siapa yang dapat menandinginya,
Dan tidak pernah menghampakan orang yang meminta,
Sekalipun dia terpaksa berhutang buat sementara,

Kalau ada orang mengata dan menghinanya,
Dia diam saja, tidak menjawabnya,
Gembiranya tidak ketawa, hanya senyum sahaja,
Cuma ketaranya pada mukanya,
Bahkan tidak pernah menghina orang atau mengata aibnya,
Sekalipun musuhnya, Continue reading

Bicara Sejarah Islam : The Secret of Nusantara

world_route.jpg

Pada abad ke-11 M dimulailah rangkaian konflik antar pemeluk agama yang dikenal sebagai Perang Salib (Crusade Wars). Diawali dengan perintah Paus (Pope) Urbanus II untuk menguasai Yerusalem yang berada dalam wilayah pemerintahan Islam. Gelombang peperangan terus berlangsung selama berabad-abad kemudian dan tahun meluas ke wilayah-wilayah lain. Konflik yang terjadi dalam Perang Salib sebenarnya tidak hanya melibatkan dua pemeluk agama tersebut karena dalam beberapa seri Perang Salib berikutnya tentara Salib juga terlibat konflik dengan pihak-pihak di luar kaum Muslim yang menjadi lawan utama.

Bagi Crusaders (tentara Salib) dan kaum Muslim, peperangan yang terjadi meninggalkan kesan yang tidak terlupakan pada masing-masing pihak. Bagi orang-orang Eropa, kekalahan pada Perang Salib terhadap Salahuddin Al Ayubi/ Saladin (Ayubbid Empire)Ottoman Empire) dan kemudian terhadap Turki Utsmani ( menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Hal ini mendorong lahirnya Renaissance Eropa pada abad ke-15. Sistem keagamaan yang dinilai menghambat kemajuan mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya mereka mengharapkan pencapaian seperti dominasi Yunani-Romawi sebelum zaman Kristen dengan cara mengembangkan kemajuan-kemajuan yang telah dipelajari sebelumnya dari orang-orang Arab, di antaranya adalah pada pada bidang geografi, teknologi maritim, navigasi dan persenjataan. Continue reading

The CRITERIA of The PARTY of ALLAH

1. The complete Islamic way of life

There is truth in the party meaning there is a complete Islamic way of life. Established in the party are the Islamic system of economy, Islamic social system and other Islamic systems in health, welfare system, Islamic information, motivation and communication, agriculture and systems in other aspects of life whether at the level of party, state, nation or even up to the level of an empire. All these are based on the Islamic shariah and are guided by faith (iman).

complete-way-of-life.jpg

Bandar Country Homes, Rawang, Selangor, Malaysia : A Model of Islamic City

2. Human and material development

The difference between the party of Allah and that which is not is that in the party of Allah, there exist both material and human development. Like a steelyard, both are in complete balance. These are the factors that result in peace, prosperity and the forgiveness of Allah in the party because the physical development is owned and carried out by good people who are spiritually developed and virtuous. They are able to uphold the shariah or laws of Allah and the traditions of the Prophet in every aspect of life. They are able to manifest and practise Islam in real life, not only in their minds which are only theoretical and grossly impractical. This cannot be done unless they have the strength, power and energy derived from human and spritual development.

3. Its influence is universal

The influence of the party of Allah is universal. Its followers are of various races and they come from many countries. The way of the party can fulfil and satisfy the needs of all Muslims who love the truth regardless of their race and origin. It can fulfil their innate and inborn nature; whereby such nature is common to all humans no matter what their race and ethnic are. If a party comprise members and supporters of only one race from one country or of only one group or profession, may they be youths, scholars, clerics, farmers, labourers, literary people, businessmen and so on, then it is not the party of Allah because it is then exclusive and not universal.

4. Universal unity

In Allah’s party, there is universal unity or unity of the ummah. In other words, the party of Allah is where people from around the world unite, and they practise the same system and way of life. Everyone is bound by Allah’s laws. This is what Allah meant by the decree:

Meaning: “Holdfast all of you together to the rope of Allah, and do not be divided among yourselves.” (Ali Imran: 103)

The party that practises the laws of Allah is liken to a rope which whoever holds on to it would be joined together to one source of reference that is Allah. That is what is called unity.

5. Own system of livelihood Continue reading

The Party of Allah (III) – The Criteria of The FOLLOWERs

1. Normally members of the party of Allah are small in number but they possess quality and are greatly influential. Only their sympathisers are many. Perhaps because of the stringent requirement to be a member, many cannot qualify. The wisdom is that Allah wants to present Himself and show His greatness that His party, although small, is able to defeat their opponents of greater numbers. This will verify Allah’s decree

Meaning: “How often a small group overcame a mighty host by Allah’s will? And Allah is with those who are patient?” (Surah Al Baqarah: 249)

Or at least, it is easier to uphold the complete and all encompassing Islamic way of life in a smaller party compared to a big one with Allah’s permission.

2. The levels of people who make up the party come from various groups and professions. There are farmers, undergraduates, judges, lawyers, businessmen, politicians, policemen, soldiers, civil servants, artists, clerics, millionaires, ministers and so on. Most of them are full time members, working in accordance to their skills and expertise.

3. Members of the party of Allah who are distributed in nations all around the world are similar and uniform in their thinking, character, identity, behaviour and in the way they struggle. They conform to each other as though they are of one father and mother even though some of them do not know and have never met each other because they live too far apart. This happens because the upbringing and education comes from one source, which flow through the established channels to every nook and corner wherever the members are around the world.

men-equal1.jpg

~ men-equal, picture courtesy of Heliconia ~

4. The ties of brotherhood between the followers is akin to a closely arranged set of bricks that make up a wall. Continue reading

The Party of Allah (II) – The Criteria of The LEADER

al_aqsa_mosque_dome.jpg

1. The leaders of the party of Allah are the representatives or the caliphs of Allah.

They are appointed or chosen by Allah through divine revelations (wahyu), Hadiths, by divine inspirations (ilham) or by the Ahlul Halli wal Aqdi (the consultative council). The Apostles were shown by divine revelations. The Caliphs (Khulafaur Rashidin) were shown by the Hadiths and the Ahlul Halli wal Aqdi. The Mujaddids (reformers) were and are shown by the Hadiths and divine inspirations. Saul (Tholut) and Alexander the Great (Zulkarnain) were shown by divine revelations. Muhammad Al Fateh was shown by the Hadiths and divine inspirations. The second coming of Prophet Isa or Jesus is shown by the Quran and Hadiths. Al Mahdi is shown by the Hadiths and divine inspirations. The Prince of Bani Tamim is also shown by the Hadiths and divine inspirations. There were also minor leaders who were saints and pious people whose birth and leadership were shown by divine inspirations.

The Caliphs or Allah’s representatives do not become leaders through the process of elections or counting of votes. In fact, they do not go through any specific method. They are accepted by the people around them because of their worship, their taqwa (fear of Allah), their exemplary character, knowledge, sacrifices, leadership, services to the society and their contribution towards the community. Even if non-Muslims do not convert to Islam, they still accept and love them and their leadership. These leaders are accepted by the hearts of people and not by votes or the show of hands. That is how Allah appoints His people.

2. Leaders chosen by Allah are given knowledge through divine revelations or divine inspirations or knowledge that goes direct to their hearts (laduni).

Divine revelations are only for the Apostles and the Prophets whereas leaders who are not Apostles and Prophets are given divine inspirations (ilham). Divine inspirations give new meaning to the interpretation and understanding relating to divine revelations (Quran) and the laws of Allah (shariah).

Every Mujaddid (reformer) brings divine inspirations of his own which form his mind or his thoughts, which is knowledge that is relevant and suitable for his time and era. His mind is knowledge which is new and different from those existing and those before it. His mind however is not a new teaching neither is it a new set of laws and regulations. It does not change divine revelations but expounds it and gives it a new understanding, meaning and dimension relevant to its particular era. Continue reading

The Party of ALLAH (I): HIZBULLAH – in the TRUE meaning

In Islam, and as contained in the Quran, Allah had clearly and firmly introduced the party of Islam with the title “Hizbullah” which means the Party of Allah.

party.jpg

~ The Party of ALLAH never follows the Western secular political system a.k.a Democracy & Election ~

Which in turn means that, Islam requires all its followers to be in such a party that is the Party of Allah. Not the party that follow the Western secular political system.

This is stated in the following verses:

Which means: “Verily, your leader is none other that Allah, His Messenger and the believers – those who perform as solah (prayers) and give zakah (tithes) and those who bow and submit themselves to Allah. And whosoever takes Allah, His Messenger and those who believe as their leaders, they are the party of Allah and they will be victorious.“ (Al Maidah: 55-56)

The Prophet, peace be upon him (pbuh) also firmly said that Muslims are obligated to be in a party. He said:

Meaning: “It is obligatory that you be with a jamaah (party), verily Allah’s hand (help) is with the jamaah (party).”

This next Hadith of the Prophet explains in detail the meaning of “the party”:

Meaning: “There will always be a toifah (group) among my followers that will be able to manifest the truth and they would be invincible before those who qppose them until the command from Allah comes.” (Narrated by Al Bukhari and Muslim)

The criteria of that party, jamaah or toifah which is said as the Party of Allah was also mentioned by the Prophet (pbuh) as follows

Meaning: “Being in a jamaah (party) is a blessing and being divided is a torment.” (Narrated by Al Baihaqi)

In observing and analysing the Party of Allah which was established by the Prophet (pbuh), the four ‘Caliphs’ (Khulafaur Rashidin), the Mujaddids (reformers) and other promised leaders of the truth, we could clearly see the criteria or characteristics of the party or group (jamaah) or ‘toifah’ or ‘hizbullah’ as mentioned above.

I would like to summarise these characteristics so that Muslims can form a party or a group (jamaah) of their own which is fit to be called the party of Allah or the Islamic Party or the party of the truth. At the very least, they could use the characteristics to determine whether any particular party or group that exist today is true or false. If possible we can search out the party which fulfils the exact characteristics of the party of Allah so that we can join it and be its followers.

dirty-ballot-box.jpg

~ Democracy based on election is a dirty political system & UnISLAMIC ~

I would like to emphasise that the difference between the Party of Allah and the secular party of Western Politics is like heaven and earth. Even though there are some groups who name their party as an Islamic party, but without the proper criteria and characteristics, they are not and cannot be deemed as the Party of Allah. Their principles, techniques, methods, characteristics, approach, objective, and everything else are so different from that of Islamic politics, as different as night is to day. Continue reading

SUFI WAY : Dalam Rangka Mewujudkan ISO-AKHLAK INTERNATIONAL

~ Dalam Islam, sesungguhnya Allah telah melengkapkan segala sesuatu hal untuk menguruskan dunia ini. Dengan mengirimkan Rasulullah sebagai suri tauladan terbaik. Termasuklah ISO AKHLAK International yang sudahpun ada dalam pengajian2 Tasawuf yang dibawa oleh syeikh2 Tarikat dan Sufi tingkat dunia ~

unity.jpg

Posting ini adalah sebuah kembara yang saya dapat dari sebuah pengajian sufi, melalui beberapa sifat yang diajarkan para syeikh sufi tingkat dunia untuk menempuh istiqamah, makarimul akhlaq dan perpaduan bangsa dalam merealisasikan ISO Akhlak International.

1. SETIA

Sifat setia ini con­tohnya:

Jika kita meminjam sesuatu dari orang lain maka wajib kita memulangkannya sesegera mungkin tanpa melengah­-lengahkan waktu demi menanamkan rasa saling percaya-mem­percayai antara satu sama lain dalam masyarakat, ini mesti dilakukan tanpa bertangguh, lupa maupun leka. Jangan sampai tercatat pada dirimu sikap suka melengah­-lengah membayar hutang misalnya.

Kita juga mesti menjaga adab pergaulan dengan saudara-­saudara seperjuangan, memelihara janji-janji mereka, janji-janji dengan rakan taulan setiap masa.

Peliharalah juga hubungan kita dengan mereka sebaik mung­kin, perasaan kasih terhadap mereka turut dijaga jangan sampai berkurang, sedapat-dapatnya senantiasalah berbuat baik dengan mereka semua.

Memelihara janji dan mengekalkan rasa-rasa ini sepanjang masa mestilah diusahakan sedapat mungkin kerana semua ini sebenarnya merupakan sebagian dari kesetiaan janji dan ketaatanmu kepada Allah. Inilah juga ibadah dan penyembah­anmu kepada Allah dalam tiap gerak diammu apabila engkau terus istiqamah melaksanakan amalanmu dan tetap di atas keazamanmu kerana Allah.

Di situlah kita nanti dihadiahkan Allah Taala satu kurniaan yang dijanjikan dalam firman-Nya:

Maksudnya: “Dan bagi mereka yang berjihad pada jalan Kami pasti Kami akan tunjukkan mereka jalan Kami.” (Al Ankabut: 69)

globe-on-hand.jpg

Dan satu lagi antara sifat setia yang paling agung itu ialah apabila dapat melupakan saja kebaikan kita pada manusia dan sen­antiasa mengingat pula kebaikan-kebaikan mereka pada kita. Ingatlah kebaikanmu pada mereka tidak sia-sia dan janganlah pula kebaikan mereka padamu dilupakan kerana di situ ada anugerah dari Allah Taala.

Sepertimana yang disabdakan oleh junjungan mulia Nabi kita SAW:

Maksudnya “Amal-amal makruf dapat menghindar nasib malang “

2. KHAUF

Sifat yang kedua ialah khauf [takut]. Sesungguhnya dengan banyak takut pada Allah itu dapat membawa kita ke jalan keselamatan dan istiqamah. Senantiasalah bimbang dan sedarlah atas nama Allah dengan keyakinan yang sebenarnya bahwa Dia sentiasa melihat dan memantaumu, Dia sentiasa bersama dan menga­wasimu dalam tiap patah perkataan, perbuatan, gerak dan diam, tidur dan jaga, bersendirian maupun ramai.

Kalau engkau sadari itu apakah masih mau lagi menyandar harapanmu pada makhluk, masihkah mahu meminta pada mereka sedangkan engkau tahu bahwa zaman ini telah rusak, manusianya pun rusak tujuan hidup, kecenderungan dan hanya mementingkan diri semata-mata?!

Mampukah kita untuk merdeka dari cengkaman korupsi yang ditukar dengan istilah-istilah yang nampak baik sepertimana dapat disaksikan zaman sekarang? Tambahan pula mereka yang menyogok itu bukan memberi karena kasih-sayang, bukan juga bermotif saudara seagama dan bukan juga kerana semangat patriotik tapi semata-mata untuk merealisasikan keinginan mereka yang rusak atau untuk merampas hak orang lain.

Dalam diri kita masing-masing, cuma ada sekeping hati yang hanya akan takut kepada Allah atau takut kepada manusia, tak mungkin dua perasaan takut yang berbeda itu dapat berhimpun dalam sekeping hati.

3. SABAR

Sifat ketiga yang dapat membuka jalan menuju kesempurnaan insan adalah sabar. Membalas kejahatan orang padamu dengan kebaikan hingga nanti setiap yang memusuhimu akhirnya mengakui kelebihan, kebaikan dan keagungan peribadimu. Continue reading

The PROPHET’s LEGACY : The LAST Era that was PROMISED (I)

~ From Ibnu Umar r.a. that Rasulullah (pbuh), whilst holding the hand of Sayidina Ali, said: “It will emerge from this sulbi (basis of descendance), a man who will fill the earth with justice. And so, when you are convinced of such, you must endeavour to be with the Prince of Bani Tamim. Verily he comes from the East and he is the holder of the standards of Al Mahdi.” (Narrated by At-Tabrani)

Related articles :

Take a BREAK with Nostradamus

Ramalan Nostradamus & Walisongo

islam-map.jpg

Please look deeply at the pic : What a MIRACULOUS EAST, prepared for the Rising of the Great New Empire !?

Soothsayers of many races using many languages and varied methods agree with the sayings of the Prophet (pbuh) about the last era. The last era is specifically for Islam. The most famous are the predictions of the Jewish, Christian and Javanese soothsayers.

Most people know about the predictions of Nostradamus (a French Jew) concerning the coming of a saviour that he mentioned as “the man with the blue turban”. A Dutch writer, G. H. Brill wrote in his book The First Encyclopaedia of Islam (1913) about the rise of Islam from the East by someone he called “the standard bearer of Mahdi”. And in an ancient and famous Javanese book known as Babad Tanah Jawa, there is mention about the coming of one “Ratu Adil” (Al Mahdi) and “Satria Piningit” (The Prince of Bani Tamim) who will govern NUSANTARA Archipelago with pure Islamic teachings. Continue reading

The PROPHET’s LEGACY : The LAST Era that was PROMISED (II)

masjid_sultan.jpg

This is the last era that is promised by Allah. With the will of Allah, the resplendence of Islam from the East in this last era will be a repetition of the first resplendence, and the first empire of Islam. It is promised. It is within the power of Allah to make the East the foundation of the second empire of Islam (ummah) similar to the way Allah chose Mecca and Medina to be the foundation for the first empire of Islam. Continue reading

POLITICS Today [WESTERN political system] is Totally UnISLAMIC…!?

old-lady-election.jpg
~ Today Muslims generally practise politics that is totally unIslamic. But to them, that is the only politics they know. They use unIslamic politics [western political system] to uphold and struggle for an Islamic nation ~

In the Muslim world today, the term ‘politics’ is always understood as Western politics. This is because in giving its definition, they seek reference to the West. They no longer refer this vital matter to Islam itself, i.e. the Quran and the Prophet’s sunnah (traditions). And this ignorance prevails among the Muslim scholars, theologians and Islamic fighters alike. To them, the only politics they understand is Western politics and its democratic electoral system.

When we ask Muslim political activists, “why do you get involved in the dirty Western politics?” They will usually answer, “we don’t have any choice”.

They indirectly allege that Islam does not have its own politics! That Islam does not have its own system.

Though they acknowledge that the teachings of Islam are complete and all compassing, their acts nevertheless prove otherwise.

They act as if Islam does not have its own way of doing politics. Verily, the Prophet Muhammad, peace be upon him (pbuh) himself had shown us the way. He was born at the time when the world was controlled by a barbaric political system of the age of ignorance. But he did not get involved in it. Without excuses, he strove to implement Islamic politics, and in doing so, destroyed the established nonsensical ignorant political system. Continue reading

Siapakah Yang Paling Ajaib Imannya ?

Suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah makhluk yang paling ajaib imannya?”

“Malaikat”, jawab para sahabat

“Bagaimanalah para Malaikat tidak beriman dengan Allah sedang mereka senantiasa dekat dengan Allah”, jawab baginda menafikan.

“Para Nabi”, jawab Sahabat lagi

“Bagaimanalah para Nabi tidak beriman dengan Allah sedang kan wahyu diturunkan kepada mereka”. Nabi membantah lagi jawaban Sahabat.

“Kami Sahabatmu?!, jawab Sahabat lagi

“Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kamu?”, jawab Nabi. Continue reading