Beberapa kisah mengenai Tabarruk para Sahabat r.a terhadap Rasulullah s.a.w

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN RAMBUT DAN KUKU NABI

1. Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya pada Kitab l-libas (bab pakaian) dalam pasal berjudul “Tentang rambut abu-abu”, bahwasanya ‘Usman ibn Abd Allah ibn Mawhab mengatakan: “Keluargaku mengirim diriku pergi ke Ummu Salama dengan secangkir air. Ummu Salama membawa keluar suatu botol perak yang berisi sehelai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam, dan biasanya jika seseorang memiliki penyakit mata atau kesehatannya terganggu, mereka mengirimkan secangkir air kepadanya (Ummu Salama) agar ia mengalirkan air itu lewat rambut tersebut (dan diminum). Kami biasa melihat ke botol perak itu dan berkata, ‘Aku melihat beberapa rambut kemerahan’”.

2. Anas berkata, “Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur kepalanya (setelah hajj), Abu Talha adalah orang pertama yang mengambil rambutnya” (Hadits Riwayat Bukhari).

3. Anas juga berkata: “Nabi sall-Allahu álayhi wasallam melempar batu di al-Jamra, kemudian ber-qurban, dan menyuruh seorang tukang cukur untuk mencukur rambut beliau di bagian kanan lebih dulu, lalu memberikan rambut tersebut pada orang-orang” (Hadits Riwayat Muslim).

Dia berkata: “Talha adalah orang yang membagi-bagikannya”. (Hadits Riwayat Muslim, Tirmidhi, dan Abu Dawud).

Dia juga berkata: “Ketika Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam mencukur rambut kepalanya di Mina, beliau sall-Allahu álayhi wasallam memberikan rambut beliau dari sisi kanan kepalanya, dan bersabda: Anas! Bawa ini ke Ummu Sulaym (ibunya). Ketika para shahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in melihat apa yang Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam berikan pada kami, mereka berebut untuk mengambil rambut beliau sall-Allahu álayhi wasallamyang berasal dari sisi kiri kepala beliau sall-Allahu álayhi wasallam, dan setiap orang mendapat bagiannya masing-masing. (Hadits Riwayat Ahmad).

4. Ibn al-Sakan meriwayatkan lewat Safwan ibn Hubayra dari ayah Safwan: Tsabit al-Bunani berkata: Anas ibn Malik berkata kepadaku (di tempat tidurnya saat menjelang wafatnya): “Ini adalah sehelai rambut Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam. Aku ingin kau menempatkannya di bawah lidahku.” Thabit melanjutkan: Aku menaruhnya di bawah lidahnya, dan dia (Anas) dikubur dengan rambut itu berada di bawah lidahnya.”

5. Abu Bakr berkata: “Aku melihat Khalid ibn Walid meminta gombak (rambut bagian depan) Nabi sall-Allahu álayhi wasallam, dan dia menerimanya. Dia biasa menaruhnya di atas matanya, dan kemudian menciumnya.” Diketahui bahwa kemudian dia menaruhnya di qalansuwa (tutup kepala yang dikelilingi turban) miliknya, dan selalu memenangkan perang. (riwayat Al-Waqidi di Maghazi dan Ibn Hajar di Isaba).

Ibn Abi Zayd al-Qayrawani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata: “Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qalansiyya yang berisi beberapa helai rambut Rasulullah sall-Allahu álayhi wasallam, dan itulah yang dipakainya pada perang Yarmuk.

6. Ibn Sirin (seorang tabi’in) berkata: “Sehelai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam yang kumiliki lebih berharga daripada perak dan emas dan apa pun yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi.” (riwayat Bukhari, Bayhaqi dalam Sunan Kubra, dan Ahmad)

7. Dalam Shahih Bukhari, vol 7, kitab 72, no. 784, Utsman bin Abd-Allah ibn Mawhab berkata, “Orang-orangku mengirim semangkuk air ke Umm Salama.” Isra’il memberikan ukuran tiga jari yang menunjukkan kecilnya ukuran wadah yg berisi beberapa helai rambut Nabi sall-Allahu álayhi wasallam. Utsman menambahkan, “Jika seseorang sakit karena suatu penyakit mata atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Umm Salama (dan dia akan mencelupkan rambut Nabi ke dalamnya dan air tersebut akan diminum).

Aku melihat ke wadah (yang berisi rambut Nabi) dan melihat beberapa helai rambut kemerahan di dalamnya.”

Hafiz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, Vol. 10, hlm, 353, mengatakan: “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi itu sebagai jiljalan dan botol itu disimpan di rumah Umm Salama.”

Hafiz al-’Ayni berkata dalam ‘Umdat al-Qari, Vol. 18, hlm. 79: “Umm Salama memiliki beberapa helai rambut Nabi dalam sebuah botol perak. Jika orang jatuh sakit, mereka akan pergi dan mendapat barokah lewat rambut-rambut itu dan mereka akan sembuh dengan sarana barokah itu. Jika seseorang terkena penyakit mata atau penyakit apa saja, dia akan mengirim istrinya ke Umm Salama dengan sebuah mikhdaba atau ember air, dan dia (Umm Salama) akan mencelupkan rambut itu ke dalam air, dan orang yang sakit itu meminum air tersebut dan dia akan sembuh, setelah itu mereka mengembalikan rambut tsb ke dalam jiljal.”

8. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya (4:42) dari Abd Allah ibn Zayd ibn ‘Abd

Rabbih dengan sanad yang shahih seperti yang dinyatakan oleh Haythami dlm Majma’ al-Zawaid, bahwa Nabi sall-Allahu álayhi wasallam memotong kukunya dan membagikannya ke orang-orang.

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN KERINGAT RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM

1. Anas berkata: “Nabi sall-Allahu álayhi wasallam tinggal bersama kami, dan begitu beliau tidur, ibuku mulai mengumpulkan keringatnya dalam suatu bejana. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam terbangun dan bertanya, “Wahai Umm Sulaym, apa yang kau lakukan?” Dia (Umm Sulaym) menjawab, “Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami dan itu adalah parfum terbaik.” (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad).

Ketika Anas terbaring menjelang wafatnya dia menyuruh agar sebagian dari bejana itu digunakan saat upacara sebelum penguburannya, dan memang dipakai seperti yang ia suruh. (Hadits Riwayat Bukhari)

Ibn Sirin juga diberikan sebagian dari bejana milik Umm Sulaym. (Hadits riwayat Ibn Sa’d)

TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN SALIVA (AIR LUDAH) NABI DAN AIR WUDHU’ BELIAU

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang ini amatlah banyak. Antara lain dapat dilihat di karya Syaikhul Muhadditsiin Imam Ibn Hajar al-Asqalany, Fath al-Bari 1989 ed. 10:255-256.

1. Dalam Bukhari dan Muslim: Para shahabat berebut mendapatkan sisa air wudhu’ Nabi sall-Allahu álayhi wasallam untuk digunakan membasuh muka mereka.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata: “riwayat-riwayat ini merupakan bukti/hujjah untuk mencari barokah dari bekas-bekas para wali” (fihi al-tabarruk bi atsar al-salihin).

2. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam biasa menggunakan saliva-nya untuk menyembuhkan penyakit, saliva beliau dicampur dengan sedikit tanah, dan diikuti kata-kata.

“Bismillah, tanah dari bumi kita ditambah dengan air liur dari orang-orang yaqin di antara kita akan menyembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Nabi sall-Allahu álayhi wasallam pernah menyuruh setiap orang di Madina kemudian Makkah untuk membawa bayi-bayi mereka yang baru lahir, kepada siapa beliau sall-Allahu álayhi wasallam membacakan doa dan memasukkan campuran nafas dan ludah (nafs wa tifl) beliau ke dalam mulut bayi-bayi itu. Beliau kemudian memerintahkan pada ibu-ibu mereka untuk tidak menyusui sampai malam.

[Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, Bayhaqi dalam Dala’il Nubuwwah, Waqidi, dll].

Nama-nama lebih dari 100 orang Ansar dan Muhajirin yang menerima barokah khusus ini diketahui lengkap dengan isnadnya.

Sumber : http://blog.its.ac.id/syafii/2009/05/04/adab-hormat-dan-tabarruk-sunnah-nabi-yang-dilupakan/

Advertisements

YAQAZAH – Rasulullah SAW sentiasa ada bersama kita

yaqazah

DEFINISI YAQAZAH DAN MUSYAFAHAH

Arti yaqazah pada bahasa ialah jaga, sedar, bukan dalam keadaan mimpi, (yaqiza) Aiy mutayaqqizun: Hazirun: jaga, sedar, berjaga-jaga. – Mukhtarus Sihah, Asy Syeikh AI Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al’asriyah, Soida, Beirut. (m.s. 349)

Adapun pengertian yaqazah pada istilah perbahasan ilmu tasawuf ialah bertemu atau berjumpa dengan roh Rasulullah SAW dalam keadaan jaga (bukan mimpi) dan ia merupakan satu karamah wali-wali Allah.

Arti musyafahah pada bahasa pula ialah berbual-bual antara dua pihak. (Al Musyafahah) Al Mukhatobah min fika ila fihi. – Mukhtarus Sihah, Asy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, AI Maktabah AI’asriyah, Soida, Beirut. (m.s. 167)

Pada istilah pula ialah berbual-bual dengan roh Rasulullah SAW atau bersoaljawab atas apa-apa kesamaran dalam agama atau menerima amalan-amalan tertentu dari baginda.

Yaqazah adalah satu perkara luar biasa yang mencarik adat. Ia menjadi salah satu sumber kekuatan para ulama yang hak dalam mempertahankan kebenaran.

Imam As Sayuti apabila ingin memasukkan sebuah Hadis ke dalam kitab karangannya akan bertanya kepada Rasulullah SAW secara yaqazah: “Adakah Hadis ini daripadamu ya Rasulullah?”

Jika Rasulullah SAW membenarkan, barulah beliau merekodkan Hadis tersebut.

Begitu juga berlaku kepada ramai auliya Allah. Ini merupakan satu ‘teknologi’ yang sangat canggih yang tidak mampu dipintas oleh musuh-musuh Islam di kalangan Yahudi dan Nasrani. Bagaimana mereka ingin memintasnya sedangkan kekuatan mereka setakat memaksimumkan penggunaan akal. Akal sampai bila pun tidak akan berjaya mengalahkan kekuatan roh.

Inilah senjata kemenangan ulama-ulama dan para pejuang Islam sepanjang sejarah. Dengan bersungguh-sungguh mengusahakan taqwa, Allah kurniakan kepada mereka bantuan-bantuanNya secara zahir atau rohani. Di antara bantuan-bantuan rohani ialah mimpi yang benar, firasat, kasyaf, hatif dan lain-lain. Baca : HIKMAH & ILHAM: Saluran Ilmu Yg Sudah Hilang Dari ULAMA Islam Modern

Bacalah sejarah Tariq bin Ziad, Salehuddin Al Ayubi, Muhammad Al Fateh, Mimar Sinan, Imam Al Ghazali, Imam As Sayuti. Kajilah rahsia kejayaan mereka.

HUKUM YAQAZAH

Yaqazah hukumnya boleh berlaku pada wali-wali Allah sebagai kemuliaan (karamah) yang Allah kurniakan kepada mereka. la adalah perkara yang mencarik adat (luar dari kebiasaan) pada logik manusia sedangkan ia masih dalam lingkungan mumkinat (jaiz) bagi Allah mengadakan atau mentiadakannya. Continue reading

Sayidina Ali dan Sepuluh Buah Delima dari Syurga

delima

Dikisahkan oleh Ka’ab bin Akhbar.

Ketika Siti Fatimah Az Zahra, Puteri Rasulullah SAW, sekaligus istri kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib sakit, ia ditanya oleh Sayidina Ali,  ” Wahai Fatimah, adakah engkau menginginkan sesuatu?”

“Wahai Suamiku, aku ingin buah delima”, Jawabnya.

Sayidina Ali termenung, sebab ia merasa tidak memiliki wang sedikitpun. Namun, ia segera berangkat dan berusaha untuk mencari wang satu dirham. Maka akhirnya Sayidina Ali mendapatkan wang itu dan kemudian ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.

Namun di tengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba ia melihat seseorang yang tengah terbaring sakit di tepi jalan, maka Sayidina Ali pun berhenti dan menghampirinya. Continue reading

(i) 12 Dalil mengapa kita bermazhab (ikut ulama mazhab)

Artikel ini adalah sebagai hujah untuk menguatkan pendapat dibolehkannya kita bermazhab dalam Fiqh dan juga sebagai jawaban bagi orang2 yang merasa tidak perlu atau menolak mazhab. Berikut setidaknya 12 dalil kita dibolehkan bermazhab atau mengikut salah satu daripada empat mazhab yang muktabar iaitu Mazhab Syafi’i,  Maliki, Hanafi dan Hambali. Antaranya:

muwatta_full1

DALIL PERTAMA:

Memang sudah ada isyarat daripada Hadis Rasulullah:

Sebaik-baik manusia ialah yang berada di kurun aku, kemudian mereka yang selepas kurun itu, kemudian mereka yang mengiringi kurun itu pula. (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW menyebut bahawa umat Islam sekitar tiga kurun itu secara majoritinya adalah baik-baik, soleh-soleh bahkan sebahagian daripadanya bertaraf muqarrobin. Mereka inilah yang dikatakan salafussoleh (orang soleh zaman dahulu). Manakala umat Islam selepas 300 tahun itu hinggalah ke zaman kita ini dikatakan khalputtoleh (orang-orang jahat yang kemudian). Ertinya umat Islam selepas 300 tahun itu secara majoritinya jahat-jahat; yang baik-baik terlalu sedikit.

Manakala keempat-empat Imam Mazhab tersebut hidup  pada sekitar tiga kurun selepas Rasulullah SAW. Imam Hanafi dan Imam Malik hidup pada kurun yang pertama lagi; masing-masing lahir pada tahun 80 dan 93 Hijrah. Sementara Imam Syafi’i (lahir 150 Hijrah) dan Imam Hambali (lahir 164 Hijrah) berada pada akhir kurun kedua sehingga kurun yang ketiga. Sedangkan menurut Hadis tadi, secara umum umat Islam sekitar tiga kurun itulah yang patut menjadi ikutan kita. Sunnah mereka, tradisi mereka, kebudayaan mereka dan lainlain menjadi ikutan kita. Betapalah pula Imam-Imam Mazhab yang telah disebutkan tadi. Mereka bukan sahaja ulama pilihan di kalangan para ulama di zaman itu, tetapi mereka juga merupakan ulama yang soleh, warak, kuat beribadah, tegas memegang hukum, bebas (tidak makan gaji atau terikat dengan tugas rasmi). Bahkan mereka menjadi ikutan para ulama dan orang-orang awam dari zaman tersebut hingga ke hari ini. Maka lebih-lebih patut dan lojik mereka itu menjadi ikutan kita.

DALIL KEDUA:

Jangan pula menganggap bahawa bila seseorang mengikut salah satu daripada empat mazhab tadi, maka dia tidak mengikut Al Quran dan Hadis. Kerana keempat-empat Imam Mazhab tersebut telah pun mengikut Al Quran dan Hadis. Mereka mengistinbatkan hukum atau mengeluarkan hukum daripada Al Quran dan Hadis. Ini memberi erti mereka mengikut Al Quran dan Hadis. Oleh itu kita tidak boleh menganggap imam-imam tersebut tidak mengikut Al Quran dan Hadis. Jangan pula kita anggap mereka mengeluarkan hukum hanya berdasarkan fikiran mereka semata-mata. Continue reading

Allah SWT adalah modal kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam yang pertama ditangan Rasulullah SAW dan para sahabat, Islam terbangun dengan Allah SWT sebagai Pemodal. Tidak pernah ada sejarah Islam dapat bangkit selain Allah sebagai Pemodal.  Selama ini kita tersalah kalau beranggapan bahwa orang kaya sebagai pemodal.

kafilah2

Hakikatnya, tidak akan terjadi kebangkitan Islam seandainya kita mendapatkan uang dari orang kaya kemudian kita tidak mengatakan bahwa uang itu ialah dari Allah. Justeru itu orang kaya kalau hendak berperan serta dalam kebangkitan Islam, atau ingin selamat dari api neraka, pilihlah untuk membela Islam.

Seperti juga halnya orang bijak dan orang pandai menggunakan kepandaian untuk kebangkitan Islam dan juga orang miskin menggunakan tenaga untuk kebangkitan Islam.

Setiap orang diberikan peluang dan peranannya masing-masing oleh Allah SWT sesuai dengan kemampuannya. Bukan dilihat dari sudut pandang sebagai pemodal atau apa, tetapi kita harus melihat bahwa ini semua untuk menyelamatkan diri dari api neraka.

Pemodalnya tetap Allah, sebab itu Islam bukan terbangun atas nama orang kaya,  orang pandai atau orang bijak, tapi Islam terbangun atas nama Allah, Islam terbangun atas nama Rasulullah SAW sebagai utusan Allah dan pengurus bank Tuhan, anak kunci emas yang diciptakan Allah untuk pengeluaran uang dari Allah untuk modal kebangkitan Islam.

Memintalah pada Allah Pemodal kita, bertawasul dengan Rasulullah sebagai Pengurus Bank Tuhan, jagalah harga diri umat Islam, tak perlu kita berhutang pada musuh, kapitalis dan Yahudi.

———————————————————————————————

Pada suatu hari, saat Madinah sunyi senyap, tiba2 debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah perniagaan yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah. Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki.

Ketika Ummul Mukminin Sayidatina Aisyah RHA mendengar suara kafilah-kafilah itu datang, maka dia bertanya, “Apa yang sedang terjadi di Madinah?” Ada yang menjawab, “Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf yang baru datang dari Syam membawa barang perniagaan miliknya.” Continue reading

Halusnya Rasulullah SAW Dalam Berdakwah

Perjuangan Islam itu sangat seni. Bukan semua orang nampak, sebab itu umat Islam huru hara di dunia ini. Berani dah ada, usaha gigih, mana ada umat Islam tak berjuang? semua gigih berjuang, ramai pula, tapi mana ada kejayaan? makin hina sebab berjuang tak ada seni. Sikit-sikit nak tembak orang, nak mengata orang, itu bukan seni.

Islam itu halus, dia punya seni. Siapa boleh buat yg seni-seni itu yang boleh mengetuk fitrah orang, boleh orang senang, tengok sahaja dah jatuh hati. Itulah watak benda yang seni. Kalau kita berjuang tak seni, macam kita dengar orang pukul besi, dengar sahaja tak larat, fikiran perasaan serabut pasal tak seni. Berjuang yang tak seni pukul pahat sana sini, akhirnya sakit jiwa.

– Gambar imajinasi Madinah di zaman Rasulullah SAW –

Islam itu seni. Tengok bagaimana seninya Rasulullah SAW,

Contoh ke 1 :

Satu hari baginda bawa Sayidina Umar. Rasulullah tahu Umar ni siapa. Umar ni berani, jiwa kuat, sebelum masuk Islam dah pernah bunuh orang.

Satu hari Baginda ajak Umar pergi tengah padang pasir, ikut jelah tak payah tanya, Rasulullah bawa ke satu lembah, wadi. Di situ ada bangkai unta, kuda, kambing, kepala manusia pun ada, tengkorak manusia pun ada.

Rasulullah kata, “hai Umar apa kau lihat di sini, ini tempat busuk, bangkai binatang ada, manusia pun ada. Dulu mana ada undang bunuh, tangkap, bicara mana ada, bunuh campak sahaja”.

Bila Sayidina Umar lihat ada bangkai binatang dan manusia di situ, dia berkata pada Rasulullah, “ini bangkai wahai Rasulullah, campur antara bangkai manusia dan binatang”.
Rasulullah jawab, “inilah hakikat dunia, orang buru dunia senasib dengan yang kena buru”.

Ini seni. Mana ada tok guru yang ajar begini, kalau di masjid tok guru sekadar bersyarah , mana ada tok guru bawa murid lihat bangkai dan bersyarah depan bangkai tentang dunia?

Continue reading

Rahasia Disebalik Kelahiran Rasulullah SAW

flower_22.jpg

“ Rasulullah SAW Sumber Limpahan Rahmat”

”Kelahiran Rasulullah SAW merupakan satu peristiwa sejarah yang paling besar dan paling agung yang pernah berlaku di dunia ini. Tiada sejarah yang lebih besar, penting dan agung selainnya, sama ada sebelum atau sesudahnya. Ia adalah sejarah yang telah merubah watak dan peradaban manusia.

Justeru itu, sejarah Rasulullah SAW adalah satu peristiwa yang luar biasa, mengandungi rahsia-rahsia dan perkara yang tersirat pada setiap yang ada hubungkait dengannya walau satu titik, lebih-lebih lagi satu huruf dan satu perkataan. Padanya terkandung rahsia Tuhan yang patut kita kaji dan serlahkan. Mari kita cungkil rahsia dan hikmah di sebalik tarikh kelahiran baginda iaitu:

Sebelum Fajar, Isnin, l2 Rabi’ul Awwal, Tahun Gajah.”

Kedatangan Rasulullah SAW membawa rahmat. Sebelum fajar bererti kegelapan sudah akan berakhir dan cahaya adalah umpama rahmat Allah yang akan menjelma.

Isnin dari bahasa Arab bererti dua.

Di saat kelahiran baginda, akidah manusia sudah rosak kerana sudah lama ketiadaan Nabi dan Rasul. Hanya dua yang mengenal Tuhan; Zat Tuhan itu sendiri dan baginda Rasulullah SAW. Itulah isyarat dari Tuhan di sebalik kelahirannya pada hari Isnin. Justeru, keIslaman seseorang hanya sah apabila dia mengakui dan menyebut kedua-duanya.

Jika dirujuk pada malam, ia adalah kemuncak kegelapan.

Ertinya waktu kelahiran baginda, segala perkara negatif berada di tahap puncaknya.

Jika dirujuk pada siang, ia adalah seterang-terang cahaya matahari.

Ertinya kedatangan baginda membawa rahmat dari Tuhan untuk segala alam, bukan hanya untuk manusia, bahkan binatang, kayu kayan, batu batan dan seluruh ciptaanNya. Berkat cahaya rahmat itu, seluruh makhluk mendapat pembelaan dan tidak boleh diperlakukan sesuka hati.

Jika dirujuk pada bulan, ia adalah kemuncak bulan dalam setahun.

Ertinya baginda adalah penutup dan kemuncak para Rasul. Rasul terdahulu didatangkan untuk sesuatu kelompok dan zaman sedangkan Rasulullah SAW didatangkan untuk semua etnik, berlanjutan hingga berzaman.

Jika dirujuk pada bintang, ada bintang 12 yang mana ia adalah bintang yang paling terang di antara beribu bintang yang ada.

Ertinya kelahiran Rasulullah SAW membawa syariat yang lengkap, petunjuk dan rahmat yang lengkap dari dunia hingga akhirat. Ajaran yang dibawanya paling sempurna berbanding ajaran Rasul-Rasul sebelumnya.

cldbo-flowerwasp4.jpg

Rabi’ dari bahasa Arab bererti musim bunga.

Kedatangan baginda menjadi contoh akhlak yang mulia dan akhlak yang agung adalah umpama bunga yang cantik dan indah di awal musim bunga.

Tahun Gajah. Ia dikaitkan dengan Abrahah dan tentera bergajahnya dari Yaman. Sewaktu dia menyerang Ka’bah, dia telah merampas harta benda termasuk kambing-kambing bapa saudara baginda, Abu Thalib dan datuknya Abdul Muthalib. Akhirnya Abdul Muthalib keluar lalu bersemuka dengan Abrahah. Beliau meminta supaya dipulangkan semula kambingnya kerana ia adalah miliknya. Manakala tentang Kaabah, beliau berkata terpulanglah kerana Ka’bah itu bukan miliknya tetapi milik Allah.

Jadi, di sini, terbuka rahsia bahawa keluarga Rasulullah saw masih beragama dengan agama Nabi Ibrahim. Ertinya keturunan baginda terpelihara, bersih dan dijaga oleh Allah.

Cucu-Cucu Kesayangan Rasulullah SAW (III) : Sayyidina HUSSEIN r.a

red-rose.jpg

Baca juga kisah sebelumnya :

Sayidina Hassan dan Sayidina Hussein

Sayidina Hassan

Sayyidina Hussin dilahirkan di Kota Madinah pada 5 Syaban, tahun 4 Hijrah. Perbezaan umur di antara Sayyidina Hussin dan abangnya Sayyidina Hassan adalah setahun sepuluh bulan. Lahirnya Sayyidina Hussin turut menambahkan kegembiraan Rasulullah SAW. Baginda yang memberi nama “Hussin” itu yang bermaksud, “Si kecil cantik”.

Sewaktu menyambut kelahiran cucu lelakinya yang kedua itu, Rasulullah SAW begitu ceria. Sewaktu memangku cucunya itu, tiba-tiba wajah baginda berubah. Orang-orang yang berada di keliling baginda merasa hairan mengapa wajah baginda tiba-tiba berubah sedih. Rupanya Rasulullah SAW sudah tahu bahwa akhir hidup Sayyidina Hussin amatlah menyedihkan di mana beliau akan dibunuh dengan kejam. Continue reading

Cucu-Cucu Kesayangan Rasulullah SAW (II) : Sayyidina HASSAN r.a

yellow.jpg

Baca Juga Kisah Sebelumnya : Sayidina Hassan dan Sayidina Hussein

Sayyidina Hassan adalah cucu Rasulullah SAW dari puteri bungsu baginda yang paling disayanginya yaitu Siti Fatimah Az Zahra dan menantunya Sayyidina Ali, yang juga merupakan Sahabatnya yang sangat disayangi baginda.

Sayyidina Hassan lahir kira-kira sebulan sebelum Perang Uhud. Menurut ahli-ahli sejarah, tarikh lahirnya yang tepat ialah pada 15 Muharram. Namanya telah diberikan oleh baginda Rasulullah SAW sendiri. Nama ‘Hassan’ itu tidak pernah digunakan di Tanah Arab di zaman jahiliyah. Rasulullah SAW sangat gembira sekali dengan kelahiran Sayyidina Hassan.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Sayyidina Hassan adalah salah seorang penghuni Syurga dan seorang yang paling mirip wajahnya dengan baginda. Pernah baginda bersabda kepada Sayyidina Hassan sendiri:

“Engkau menyerupai aku baik tentang bentuk rupamu maupun tentang akhlak.”

Bahkan Sayyidina Ali sendiri pernah berkata:

“Hassan menyerupai Rasulullah dari dada sampai ke kepala. Tetapi Hussin menyerupai Rasulullah di bahagian-bahagian lainnya, dari dada sampai ke bawah.” Continue reading

Rasulullah itu Ummiy, Ummiy BUKAN buta huruf !

Q

Semoga Allah mengampunkan kita di atas salah tanggap dan salah tafsir terhadap status baginda Rasulullah SAW sebagai seorang rasul yang Ummiy. Selama ini kita difahamkan bahwa Ummiy itu berarti orang yang tidak tahu membaca dan menulis, artinya buta huruf. Jika begitu fahaman kita artinya kita menganggap baginda orang yang tidak belajar, berarti seorang yang bodoh.

Ensiklopedia Barat juga mendefinasikan Muhammad sebagai seorang yang illiterate. Bagi orang yang tidak prihatin, hal ini mungkin tidak menjadi apa-apa masalah baginya, tapi bagi yang prihatin, yang hatinya terbuka, kita rasakan seolah-olah ada yang tidak kena dengan maksud Ummiy itu. Mana mungkin seorang rasul yang kemuliaannya sampai namanya disandingkan dengan nama Tuhan, dikatakan buta huruf? Continue reading

HIKMAH HIJRAH: Allah Hendak Menaikkan Wibawa Kekasih-Nya

hijrah

Hijrah adalah peristiwa seperti yang kita ketahui, diperingati sebagai tahun baru Islam, yaitu jatuh pada bulan Muharram. Mungkin sebagian dari kawan-kawan bertanya-tanya; mengapa tahun baru Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah? bukan dari hari kelahiran Baginda, atau bukan dari hari ketika Baginda diangkat sebagai Rasul?

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad akan menetapkan tahun baru Islam, Baginda bertanya dan meminta pendapat kepada para sahabat mengenai hal itu. Ada beberapa perbedaan pendapat saat itu namun akhirnya dapat disepakati bersama bahwa tahun baru Islam adalah ditandai dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Di dalam tulisan ini akan dibahas tentang hikmah yang Allah sampaikan kepada manusia mengenai peristiwa Hijrah yang sangat bersejarah tersebut. Rasulullah pernah bersabda tentang hijrah, yang maknanya : sesungguhnya setiap perbuatan itu dinilai karena niatnya, siapa yg berhijrah karena dunia dia akan memperolehnya, yang hijrah untuk menikah dengan wanita. dia akan menikahinya, siapa berhijrah karena Allah & Rasul maka mereka akan mendapat Allah dan Rasul

Hijrah merupakan suatu peristiwa yang mempunyai hikmah mendalam, baik yang tersurat apalagi yang tersirat. Para sahabat saat itu mungkin belum mengetahui apa hasil yang akan mereka peroleh di masa depan dengan mereka ber-Hijrah tersebut. Mereka melakukannya semata-mata karena itu adalah perintah Allah, wahyu dari Allah yang disampaikan melalui Rasulullah. Di sini sudah ada satu poin yang bisa kita jadikan teladan, yaitu ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya apapun juga resikonya. Karena di dalam ketaatan itu ada berkat dari Allah SWT.

Hal ini perlu kita pahami agar jangan sampai makna Hijrah yang sebenarnya memudar atau bahkan menjadi bumerang kepada umat Islam sendiri. Kita sering mendengar tafsiran salah mengenai Hijrah, terkadang Hijrah sengaja diartikan oleh musuh Islam sebagai pelarian. Hal ini tentu saja tafsiran yang sangat buruk, sedangkan perintah Hijrah adalah wahyu dari Allah, bukan semata-mata kehendak Nabi Muhammad atau para sahabat. Walaupun peristiwa Hijrah seolah seperti lari tetapi jangan kita artikan sebagai lari.

Waktu itu Islam yang diturunkan belum sempurna, secara logika apabila Nabi Muhammad tidak Hijrah pun Baginda tidak akan terancam. Karena sebelum Islam sempurna, sebelum tugas keRasulan Baginda selesai, Baginda tidak akan meninggal dunia dan Islam tidak akan musnah. Tetapi karena Nabi Muhammad dan para sahabat merasakan bahwa perintah Hijrah itu adalah wahyu dari Allah, maka mereka taat semata. Mereka yakin bahwa jika sesuatu yang datang adalah wahyu dari Allah, maka hikmahnya pasti sungguh besar, walaupun mungkin ketika itu mereka belum mengetahuinya.Mereka adalah orang-orang yang Hanif atau Lurus Hati dengan Allah, jika mereka diseru maka mereka menjawab ”sami’naa wa atho’naa…”

Seperti yang sudah kita ketahui, Nabi Muhammad berdakwah terdiri dari 2 Era, yaitu Era Makkah dan Era Madinah, Era Makkah selama 13 tahun, lebih lama 3 tahun dari Era Madinah yang hanya 10 tahun saja. Di Era Makkah sedikit sekali wahyu dari Allah yang berupa syariat lahiriah ( bisa dilihat pada ayat-ayat Makiyyah ), kebanyakan wahyu yang turun saat itu adalah menyeru kepada seluruh manusia ( karena di saat awal-awal Islam masih sedikit sekali orang yang beriman ), wahyu yang turun berhubungan dengan tauhid, ketuhanan dan akhirat. Bahkan ketika peristiwa Hijrah tersebut para sahabat baru 2 tahun mendapat perintah Sholat ( perintah Sholat turun pada tahun 11 kenabian ketika peristiwa Mi’raj ).

Kenapa Allah kehendaki seperti itu?Apa hikmahnya? Jawabannya kurang lebih demikian. Di dalam Islam, yang namanya Syariat Lahiriah ( secara umum kita sebut saja Syariat, yaitu : Sholat, Puasa, Zakat, Haji, menutup aurat, muamalat, dsb ) adalah berfungsi untuk melahirkan Rasa Kehambaan, Rasa Cinta dan Takut kepada Allah, untuk merasakan Kebesaran dan Keagungan Allah. Bila Syariat, misalnya Sholat, tidak melahirkan Rasa Kehambaan serta Rasa Cinta dan Takut kepada Allah, maka apalah artinya kita mengerjakan Sholat.

Maka dari itu selama 13 tahun Nabi Muhammad mendidik para sahabat untuk mengenal Allah terlebih dahulu, mengenal akhirat, cinta kepada akhirat, cinta kepada Rasulullah. Untuk mendapatkan Rasa Cinta dan Takut kepada Allah tersebut maka perlu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, ada pepatah berbunyi: ” tidak kenal maka tidak cinta”. Apabila sudah kenal, sudah cinta, sudah takut, maka para sahabat mudah sekali untuk diperintahkan bersyariat yang jumlahnya ribuan ( Sholat, Puasa, Zakat, Haji,menutup aurat, tidak minum arak, tidak berzina, dsb ). Mereka melakukan itu semua atas dasar cinta kepada Allah dan untuk mempersembahkan rasa cinta kepada Allah, bukan karena dipaksa-paksa atau terpaksa.Bukan karena takut kepada bos, atau malu kepada orang lain tetapi semata-mata karena Allah. Sesuai dengan Firman Allah yang maknanya : ” Sesungguhnya Sholatku dan Ibadahku dan Hidupku dan Matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam ”

Kalau kita pahami lebih mendalam, sebenarnya peristiwa Hijrah adalah sebuah cara yang Allah berikan untuk mewibawakan kekasihNya yaitu Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Kalau memang benar Nabi Muhammad itu adalah Penyelamat tetapi orang tidak melihat wibawa yang besar pada dirinya, maka banyak orang akan menentang atau menolaknya. Tetapi dengan peristiwa Hijrah tersebut wibawa Nabi Muhammad setiap hari meningkat di Madinah, sehingga akhirnya kembali lagi ke Makkah sekaligus menawan kota itu ( Baca Kisah Futuh Makkah atau Penaklukan Kota Makkah yang terjadi tanpa pertumpahan darah ).

route.jpg

Letak kewibawaan Rasulullah SAW yang Allah berikan dibalik peristiwa Hijrah minimal ada 5 poin sebagai berikut :

1. Tidak mudah untuk menyuruh atau mengajak orang berpindah. Apalagi dilakukan dengan berjalan kaki selama berminggu-minggu, di tengah gurun pasir, kekurangan air serta makanan, meninggalkan keluarga, rumah, kebun, ternak, dibawah tekanan musuh, dsb. Tatapi ajaibnya saat itu dengan mudah para sahabat disuruh pindah walaupun dengan bersusah payah. Atas dasar apa seorang manusia bisa memberi perintah seperti itu dan kemudian ditaati oleh pengikutnya? Jawabannya yaitu karena kewibawaan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul, wibawa yang besar ini merupakan salah satu mukjizat maknawiyah Nabi Muhammad.

Baginda telah berhasil mendidik para sahabat selama 13 tahun sampai mendapatkan rasa Cinta dan Takut kepada Allah yang begitu mendalam, rasa cinta kepada akhirat dan cinta kepada RasulNya, sehingga atas dasar itulah mereka berHijrah. Jikalau perintah Hijrah itu terjadi pada tahun ke-2 atau ke-3 kenabian mungkin saja para sahabat akan menolak dan tidak mampu, karena saat itu kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasulullah belum cukup mendalam. Jadi dengan peristiwa Hijrah ini wibawa Rasulullah naik di mata dunia khususnya penguasa-penguasa Romawi dan Persia. Mereka terheran-heran, bangsa yang sebelumnya menyembah berhala, hanya tahu unta serta kambing dan selalu berperang, tiba-tiba oleh seorang yang bernama Muhammad, segolongan orang dari bangsa itu rela bersusah payah menempuh halangan dan rintangan yang tidak semua orang sanggup menjalaninya. Benak mereka mulai berfikir bahwa orang yang bernama Muhammad ini pasti bukan orang sembarangan. Di sinilah wibawa Rasulullah mulai naik

2. Ketika peristiwa Hijrah, Nabi Muhammad sudah 13 tahun memperjuangkan agama Allah. Sudah banyak penduduk Madinah yang ulang-alik pergi dari Madinah ke Makkah. Penduduk Madinah ketika itu sudah sering mendengar tentang lahirnya seorang yang disebut sebagai Penyelamat, seorang Rasul. Secara tidak langsung mereka sudah mengenal pribadi Nabi Muhammad, walaupun belum pernah bertemu dengan Baginda atau hanya melalui cerita warga Madinah yang pernah pergi ke Makkah. Mereka terkesan dengan ajaran Islam yang begitu indah dan sesuai dengan fitrah manusia, tentang akhlak mereka, tentang kasih sayang mereka, tentang sifat-sifat Mahmudah mereka dsb. Maka ketika Rasulullah datang ke Madinah, penduduk Madinah bersuka ria menyambut kedatangan seorang Penyelamat yang ditunggu-tunggu itu dengan melantunkan syair ”thala’al badru ’alaina…”.

Penyambutan yang ajaib ini belum pernah berlaku di tempat lain sekalipun kepada para Raja. Padahal mereka ( warga Madinah ) hanya mendengar tentang Rasulullah dan Islam dari cerita orang-orang. Tetapi mereka sanggup menyerah diri kepada Rasulullah dan masuk Islam di bawah Rasulullah.Bukankah ini hebat, bukankah ini menunjukkan wibawa Nabi kita sungguh luar biasa? Di sini sudah dua poin wibawa Rasullullah naik.

3. Tidak hanya itu bahkan yang lebih ajaib, warga Madinah ( kemudian diberi nama kaum Anshor ) sanggup dipersaudarakan dengan warga Makkah ( kaum Muhajirin ), kaum Anshor sanggup menyerahkan segala miliknya, rumah mereka, harta mereka, kebun mereka untuk saudara-saudara barunya itu, bahkan yang memiliki istri lebih dari satu bersedia menceraikan istrinya untuk saudaranya tetapi hal ini dilarang oleh Rasulullah.Bukankah hal ini ajaib?mana ada orang di dunia ini memiliki ukhuwah sedemikia rupa. Begitulah hebatnya wibawa Rasulullah sanggup mempersatukan manusia atas dasar Cinta kepada Allah dan RasulNya.

Bahkan suku Aus dan suku Kahzraj yang sudah ratusan tahun berperang di Madinah sanggup akur dan berkasih sayang di bawah Islam. Mendengar cerita ini maka seluruh dunia bertambah terkejut termasuk penguasa Romawi dan Persia saat itu. Mereka semakin bertanya-tanya, siapa Muhammad sebenarnya?

4. Allah menyuruh berhijrah ke Madinah padahal di madinah Waktu itu Yahudi sudah berkuasa selama 300 tahun. Yahudi, mereka punya ekonomi, punya perdagangan yang kuat, kapitalisme sangat kuat, orang – orangnya cerdik dan pandai. Artinya selama 300 tahun itulah bangsa Arab Madinah dijajah oleh Yahudi dalam segala hal, sementara bangsa Arab waktu itu suka berperang sendiri, sungguh secara logika bukan keadaan yang menguntungkan pihak Rasulullah. Apakah Allah salah?Tentu saja tidak Maha Suci Allah dari kesalahan. Bagi Nabi Muhammad dan para Sahabat, mereka menyikapinya bukan dengan logika semata-mata, karena memang banyak hal dalam Islam ini diluar logika manusia yang hanya Allah saja yang tahu hikmahnya, tetapi mereka merespon dengan ruh atau hati yang cinta dan takut pada Allah, hati yang Hanif.

Blue Mosque Interior

Jadi ibaratnya Allah suruh Nabi Muhammad dan Sahabat berpindah ke sarang musuh, ajaib. Mampukah kita?atau adakah pemimpin di dunia ini yang mampu mengarahkan hal seperti ini?Saya rasa tidak ada.

Setelah Anshar dan Muhajirin dipersaudarakan maka Rasulullah meminta Sayidina Abdurrahman bin Auf ,seorang hartawan, untuk membuka sebuah kedai di tengah Pasar Ukas di tengah kota Madinah. Kedai tersebut kemudian diberi nama Suq Al Anshar atau Pasar Anshar. Pada awalnya Sayidina Abdurrahman bin Auf merasakan bahwa tugas yang diembannya merupakan tugas yang sangat berat, yang pada hakikatnya beliau diminta untuk mendirikan sistem Ekonomi bertaraf Allah dan Rasul untuk menumbangkan sistem kapitalis yang sudah bercokol 300 tahun. Yang dilakukan oleh Sayidina Abdurrahman bin Auf tentu saja bukan bikin proposal atau pinjam bank atau berpikir tentang duit atau lain-lain cara kapitalis, tapi yang dilakukan beliau adalah mengajukan ”proposal” kepada Allah dengan bertawasul dengan Rasulullah alias merintih, bertaubat, dan mohon petunjuk dari Allah agar dimudahkan dan dibantu.

Akhirnya berbekalkan beberapa orang tim beliau, dengan ukhuwah sesama muslim ( Anshar dan Muhajirin ) yang sudah sangat kuat, maka mudah saja untuk membuat Suq Al Anshar yang waktu itu menurut riwayat hanya berukuran 4m x 4m. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah? Rasulullah minta agar semua orang Islam berniaga, berjual beli di Suq Al Anshar tanpa terkecuali.

Sistem yang dipakai Sayidina Abdurrahman bin Auf sangat berbeda dengan kapitalis, beliau membeli bahan mentah dari produsen dengan harga sepantasnya dan menjualnya pula dengan harga yang pantas.Bukan seperti Yahudi dengan sistem Kapitalisnya yang membeli bahan dengan harga Murah dan menjualnya dengan harga sangat mahal serta memonopoli pasar. Karena pada prinsipnya, perniagaan dalam sistem Islam adalah khidmat atau servis kepada manusia, bukan untuk untung. Inilah yang dinamakan berniaga dengan Tuhan atau karena Tuhan ( bukan karena uang ) dan berkhidmat dengan manusia. Untung yang mereka cari adalah keuntungan dari Tuhan yang lebih besar yaitu keuntungan akhirat, sedangkan dengan sesama manusia mereka berkhidmat atau melayan dan memudahkan manusia.Keyakinan mereka dengan Allah sangat kental, mereka yakin apabila mereka bertaqwa, membantu sesama maka Allah akan mencukupkan rizki mereka. Allah sangat memuji, bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang banyak berkhidmat kepada sesama.

Salah satu strategi Sayidina Abdurrahman bin Auf adalah beliau berani menjual unta dengan harga dibawah harga pasar. Misalkan 1 ekor unta dijual 95 ribu oleh Yahudi beliau berani menjual dengan harga 90 ribu dengan kualitas yang sama. Bila Yahudi menurunkan harga maka beliau juga menurunkan harga. Sampai yang mengherankan misalnya harga modal seekor unta 70 ribu, dan saat itu Yahudi menjual 75 ribu, beliau berani menjual dengan harga modal bahkan lebih rendah dari itu. Secara logika atau lahiriah rugi, tapi keredhaan Allah lebih mahal dari itu semua, dan beliau yakin bahwa barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya. Buktinya perniagaan beliau sangat cepat berkembang. Ajaib, hanya dalam tempo 6 bulan saja sistem Kapitalis Yahudi di Madinah tumbang dan gulung tikar.

Dengan bermodalkan Allah ( keyakinan yang bulat pada Allah ) dalam berniaga serta ukhuwah yang kuat, kedai 4mx4m mampu menumbangkan Kapitalis Yahudi yang sudah bercokol 300 tahun hanya dalam waktu 6 bulan saja. Coba anda pikirkan. Sungguh menggetarkan dunia waktu itu, sungguh sangat ajaib. Dunia gempar, tapi kisah ini sengaja ditutupi oleh musuh Islam sehingga kita tidak dapat mengambil pelajaran darinya.

Semenjak saat itu Yahudi hengkang dari Madinah dan pergi ke Palestina sampai saat ini dalam keadaan terhina. Dan dendam mereka pada umat Islam tetap membara hingga sekarang. Dalam peristiwa itu dunia mengakui kebesaran Rasulullah, kewibawaan Baginda sungguh luar biasa saat itu.

5. Bila Madinah dapat ditawan maka Makkah kemudian dapat ditawan. ( Baca kisahnya dalam ayat Idzaa jaa Anasrullahi wal Fath…).Mulai saat itu dunia mulai melihat kepada Rasulullah, mereka ingin tahu siapa dan apa yang telah dibuat Rasulullah.Maka berbondong-bondonglah manusia memeluk Islam. Mereka rasa bahwa Rasulullah dan Islam adalah penyelamat dunia yang saat itu sedang dalam kacau balau dengan penindasan dan penzaliman pemerintahan Romawi dan Persia. Mereka ingin bernaung dan mendapat keselamatan dari Islam. Maka banyak bangsa ketika Rasulullah wafat bersedia menyerahkan diri untuk ditadbir oleh pemerintahan Islam.Mudah saja bangsa-angsa seperi Irak, Samarkhand, bahkan bangsa-bangsa di bawah kekuasaan Romawi menyerah diri dengan senang hati. Disinilah wibawa Rasulullah naik walaupun baginda telah wafat.

Makam Nabi

Semua itu adalah buah atau hasil perjuangan baginda selama 13 tahun ”memperjuangkan” Allah sehingga para Sahabat mendapat ”cinta dan takut kepada Allah”. Dengan bermodal itulah ukhuwah berbunga dan dengan semua itu serta adanya sosok pemimpin yang berTaqwa yang dilantik oleh Allah, mereka dapat menyelamatkan dunia . Sebab tanpa pemimpin yang berwibawa mustahil umat Islam akan bangkit. Inilah iktibar atau pelajaran untuk umat Islam saat ini agar mencontoh apa yang telah dicontohkan oleh Nabi kita SAW.