(ii) Kelemahan Demokrasi Dalam Memilih Pemimpin

Bagi orang-orang yang mencintai kebenaran, mereka tentu mencari-cari satu cara baru yang suci, bersih dan mulia. Apakah tidak ada lagi di dunia ini kebenaran dan kemuliaan sehingga manusia terpaksa bergelimang dengan najis dan kejahatan demokrasi? Jawabnya ada, yaitu Islam. Yakni kebenaran mutlak yang datang dari ALLAH termaktub dalam Al Quran, tergambar dalam Sunnah Rasulullah SAW dan perjalanan Khulafaur Rasyidin.

demokrasi-2

Sebenarnya pemilihan pemimpin secara demokrasi itu sudah berjalan sejak 4-5 ribu tahun dahulu oleh orang-orang Yunani. Karena manusia waktu itu tidak banyak, maka mereka menjalankan demokrasi secara langsung. Yakni semua rakyat datang ke satu dewan persidangan untuk mewakili diri masing-masing dalam acara pelantikan pemimpin yang hendak dibuat. Misalnya penduduk sepuluh ribu orang maka kesepuluh ribu orang itu datang untuk menyatakan pandangan dan menentukan pemimpin yang dikehendakinya.

Dari situ kelihatan bahwa orang-orang sekuler itu memandang tujuan melantik pemerintah ialah untuk menjalankan kehendak-kehendak rakyat. Sebab itu mereka dinamakan wakil rakyat. Sedangkan dalam Islam, pemerintah bukan wakil rakyat. Tetapi wakil ALLAH (khalifatullah) untuk menjalankan pemerintahan menurut cara yang ditentukan oleh ALLAH. Kedua pandangan itu mempunyai maksud, cara dan tujuan yang amat berbeda.

Kembali pada masalah memilih pemimpin dengan cara demokrasi itu, yang telah diwarisi hingga hari ini oleh orang-orang sekuler, tidak lagi dapat dibuat secara langsung. Sebab utamanya ialah karena manusia sudah terlalu banyak. Jadi tentu tidak praktis kalau berjuta-juta manusia itu hendak dikumpulkan di satu tempat untuk menjalankan pemilihan pemimpin. Lalu demokrasi itu disesuaikan menjadi demokrasi tidak langsung. Yaitu demokrasi perwakilan rakyat. Di mana beribu-ribu rakyat di satu kawasan akan memilih wakil-wakil mereka di parlemen melalui pemilihan umum. Wakil itulah yang membawa identitas, hasrat, pandangan dan seterusnya menyuarakan kehendak-kehendak rakyat. Wakil itu dikenal sebagai wakil rakyat.

Masalahnya, Apakah betul wakil rakyat itu mewakili rakyat? Kalaulah rakyat di kawasan itu adalah petani, hidup ala kadarnya, menginginkan hidup yang berkecukupan dan pemimpin yang berjuang untuk kebaikan hidup mereka dunia dan Akhirat, apakah wakilnya juga akan membawa identitas dan hasrat yang sama? Ataukah pemimpinnya pergi membawa identitas dan hasrat pribadinya yang telah diperoleh dari hasil amanah rakyat yang dikhianatinya? Ataukah pemimpin itu sudah berlagak menjadi orang besar dan kaya, yang bicaranya pun besar serta mau memperjuangkan kebesaran dan kekayaannya itu? Saya lihat itulah yang terjadi sekarang. Rumah wakil-wakil rakyat bagaikan istana gagah berpagar, di tengah-tengah rumah-rumah kayu rakyatnya. Mobil wakil-wakil rakyat bagaikan singa melintasi deretan rakyat yang berjalan kaki atau bermotor. Sandang pangan wakil rakyat, adalah sesuatu yang mustahil dapat dirasakan oleh rakyat.

Begitu menjadi wakil rakyat, ia berjuang atas nama rakyat yang diamanahkan padanya untuk membuat dirinya serta keluarganya berbeda dengan rakyat. Gayanya seolah-olah wakil dari kalangan orang-orang kaya dan raja- raja, bukan lagi mewakili rakyat yang serba daif dan sederhana. Aneh, wakil rakyat sepatutnya betul-betul merakyat. Ia adalah bayangan rakyat untuk menyuarakan hasrat rakyat. Bagaimana bisa bayang-bayang lain dari obyeknya. Suaranya pun sudah lain. Tentu ada sesuatu yang sudah salah. Yaitu menyalahgunakan amanah rakyat, khianat dan zalim dengan tugas yang dipikulkan oleh rakyat. Hal ini mesti disadari oleh kita semua. Supaya segala penyakit masyarakat dapat dipastikan untuk diobati demi tercapainya masyarakat idaman yang aman, makmur dan mendapat keridhaan ALLAH.

Selain dari pemilihan pemimpin dengan suara rakyat ini, ada satu lagi cara kenaikan pemimpin yang dibuat di dunia. Yakni cara diktator. Cara itu sebenarnya lebih jahat dan kejam. Hal itu terjadi secara kekerasan oleh seorang yang ingin berkuasa. Dengan menggunakan kuasa tentara, ia menggulingkan pemerintah yang ada, lalu naiklah ia bertakhta memerintah negara. Rakyat mesti menerimanya, rela atau terpaksa.

Dia monopoli kekuasaan untuk dirinya saja tanpa seorang pun dapat campur tangan dalam urusan pemerintahan. Dengan itu ia memerintah dengan leluasa, sesuka hatinya. Siapa mencoba mengritik akan ditangkap dan dipenjarakan. Pemerintahan diktator ini terkenal sekali kejamnya dalam sejarah. Bertakhta di hati, beraja di mata. Pemerintahan seperti itu hari ini terbentuk di Syria, Libya, Iraq, Myanmar, Kuba dan tempat-tempat lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s