Kebangkitan Islam Bersama Cinta dan Akhlak

Rahsia kejayaan Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin dan salafussoleh dapat mengislamkan dunia adalah kerana mereka cintakan Allah lebih daripada cintakan dunia. Juga kerana mereka memberi tumpuan yang serius kepada Akhirat dengan membersihkan hati mereka. Mereka mampu menundukkan nafsu, lalu dunia jatuh terjelapak ke tangan mereka. Mereka serius membersihkan hati mereka melalui mujahadatunnafsi, riadatunnafsi, dengan disiplin serta barakah pimpinan Rasulullah SAW, maka mereka diberi Allah sifat-sifat hati yang bersih.

sufi-way

Kalaulah mereka tidak mengutamakan sifat-sifat terpuji (mahmudah) lebih daripada sifat-sifat terkeji (mazmumah) tentulah mereka bukan saja tidak dapat menegakkan empayar, hendak memerintah satu negara pun tidak akan berjaya. Bahkan memerintah satu kampung pun akan timbul pecah belah. Bahkan gagal untuk menawan walau satu hati pun.

Kalau masalah dalam diri tidak dapat diatasi, tidak selesai-selesai,apa logiknya untuk tawan hati orang lain? Lebih-lebih lagi apa logiknya untuk tawan hati manusia dalam satu empayar? Bukankah fitrah hati itu akan jatuh hati hanya dengan orang yang mempunyai akhlak terpuji?

Hakikat yang berlaku ialah bila mereka cintakan Allah dan cintakan Akhirat, di waktu itulah mereka mengorbankan hidup dan mati mereka untuk Allah. Seperti orang bercinta, dia sanggup beri apa saja demi menunaikan hajat cintanya. Begitulah hati mereka dengan Allah.

Hati, jantung, kaki, tangan serta seluruh anggota mereka gementar bila disebut nama Allah dan bila mendengar ayat-ayat-Nya. Mereka sangat cinta, rindu dan kasih kepada Rasul-Nya.

Bahkan hidup mati mereka diserahkan kepada Allah. Hati mereka sedikit pun tidak terpaut dengan dunia. Sedangkan di waktu yang sama, mereka mengurus dan mentadbir serta memerintah tiga perempat dunia.

Sesama mereka sangat berkasih sayang, bertolong bantu, bertolak ansur, berkorban apa saja, pentingkan orang lain, tenang dan damai serta hidup aman makmur. Dengan kehidupan yang beginilah mereka dapat tegakkan masyarakat yang baik selama 300 tahun. Itulah yang dikatakan masyarakat salafussoleh sepertimana yang Allah kehendaki dalam Firman-Nya:

Maksudnya: “Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah.” (Saba’: 15)

Bilamana umat Islam sudah tidak mengikut kaedah ini lagi,yakni selepas umat Islam tidak mengamalkan Islam melalui proses pembersihan hati daripada sifat mazmumah, empayar Islam telah jatuh ke tangan  musuh-musuhnya.

Bila musuh datang, bukan musuh yang diperangi, tetapi sebaliknya yang berlaku. Kawan dianggap musuh maka mereka bermusuh sesama sendiri. Hati penuh dengan cinta dunia, hasad dengki, sombong, bakhil, penakut, pemalas, pemarah, gila pangkat, gila nama dan bermacam-macam gila lagi. Di waktu itu, dunia yang sudah ada di tangan, terlepas semula.

masjidlove

Tanpa proses pembersihan hati, negara dan masyarakat akan dikuasai oleh orang jahat kerana rakyatnya telah jahat. Rakyat akan hidup susah dan menderita. Sedangkan orang yang punya kuasa, hidup senang-lenang dan mewah serta berlumba-lumba membina empayar masing-masing.  Hidup nafsi-nafsi, pecah amanah dan rasuah. Penipuan, pergaduhan, pencurian, demonstrasi, pembunuhan sering berlaku dan dunia seluruhnya tidak aman lagi.

Sebab itu Islam meminta agar umatnya membersihkan hati daripada sifat mazmumah dan menanam sifat-sifat mahmudah. Kerana dengan kaedah ini saja hati-hati manusia akan dapat ditawan. Dunia akan selamat dan aman makmur.

Hati cinta dengan Allah tapi dunia dalam tangan. Hati rindu dengan Allah tapi dunia dapat ditadbir dan diuruskan. Kaki berpijak di bumi, mengurus ekonomi, pertanian, perubatan, khidmat masyarakat, berdakwah dan mengajar, berhubung dan mesra dengan manusia tetapi hati dengan Allah.

Kesan dari mujahadah yang sungguh-sungguh untuk membersihkan hati, maka lahirlah buah dalam kehidupan masyarakat.

Apabila salafussoleh ini memerintah dan mentadbir dunia, oleh kerana terlalu takutnya dengan Allah yakni takut ditanya tentang pentadbiran dan rakyatnya, dia tidak sempat memikirkan keperluan dirinya sendiri. Tidurnya hanya satu pertiga malam. Sembahyangnya terlalu banyak. Kalau mereka berniaga, di waktu tidak ada pelanggan, mereka akan terus bersembahyang, membaca Quran atau berzikir. Ada di antaranya tidak sempat mandi junub kerana mendengar panggilan jihad (gendang perang) lantas menyahut seruannya. Mereka menangis kalau tidak dapat ikut serta dalam perang.

Mereka menangis dan pengsan bila mendengar ayat-ayat Allah. Sanggup berpisah dengan suami atau isteri sampai berpuluh-puluh tahun kerana berdakwah atau berjihad. Sanggup hidup ala kadar kerana Islam. Sanggup hidup mati untuk Allah dan Rasul-Nya.

Malangnya melalui sistem pengajian Islam yang sudah disekularkan, ilmu tasawuf atau ilmu rasa (zauq) ini sudah ditolak atau sudah tidak diambil berat lagi. Bahkan dianggap mengarut dan sesat serta menyesatkan. Kalau diajar pun ajaran tasawuf, hanya di mulut atau seronok menyebut istilah-istilahnya sahaja. Tetapi intipati ajaran tasawuf tidak bertapak di hati. Sebab itu orang yang belajar tasawuf, ilmunya itu tidak dapat mengubah sikap dan peribadi mereka.

Oleh itu mari kita fikirkan secara serius tentang ilmu tasawuf atau ilmu rohani atau ilmu rasa (zauq) ini supaya jiwa kita yang sudah buta dan mati ini dapat dicelikkan kembali serta hidup dan berfungsi. Agar ia dapat menjadi power kepada kebangkitan Islam di akhir zaman. Kalau dulu dunia dapat ditawan, maka kali ini sejarah itu akan berulang sekali lagi di tangan-tangan kita.

Advertisements

4 comments on “Kebangkitan Islam Bersama Cinta dan Akhlak

  1. Melihat kondisi umat Islam saat ini tampak mereka sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya memperoleh kemenangan. Ada yang mengandalkan akal dan pikiran saja, ada yang berpolitik saja, ada yang militan dan berbuat teror, ada yang mengandalkan senjata nuklir dan militer dll. Sebagian besar umat Islam terpecah-pecah dan berjuang pakai cara masing-masing, bahkan ada negara yang kononnya mengaku Islam tetapi bergantung pada bantuan musuh Islam sehingga dapat di kendalikan musuh.
    Islam sudah kehilangan unsur paling penting dalam Islam yaitu ruh (roh). Pelaksanaan Islam terasa hambar dan kaku bahkan keras dan kasar. Umat non-muslim jadi tidak suka dan salah sangka terhadap Islam, apalagi musuh terus-menerus memfitnah Islam. Walhal Nabi diutus untuk menjadi model akhlak yang agung. Islam istimewa adalah karena akhlak dan kasih sayangnya bahkan dalam perang musuh masuk Islam karena melihat para sahabat. Sekarang walau kyai2 dakwah dimana-mana orang tidak juga berubah bahkan semakin jahat. Semua terjadi karena cinta dunia merusak hati umat Islam.
    Saya baru2 ini diskusi dengan ayah saya tentang kondisi saat ini. Dianya selama ini jauh dari agama. Tapi saya terkejut saat ayah saya bilang penyebab kondisi kita sekarang kacau balau adalah karena salah orang2 agama spt kyai2, pendeta2, biksu2 dan depatemen urusan agama. Orang2nya tidak dapat mendidik umatnya malahan mereka berdakwah untuk mencari uang.

  2. Di akhir zaman ahli agama yang kononnya berjuang atas nama agama menjual agama dengan harga yang murah.. Maksud nya mereka berdakwah bukan semata-mata mencari keredhaan ALlah, tapi, hanya utk mengejar nama, pangkat, dan harta sahaja..

    Firman ALlah SWT..
    Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (An-Nahl:16)

    Berjuang sudah tiada rohnya, seperti yang telah diterang di atas.. Nampak lahirnya hebat, tapi, sebenarnya tunduk kepada nafsu dan syaitan..

    Sama2lah kita berlindung dari menjadi seperti mereka ini..

  3. Sejak jatuhnya Turki Usmaniyah Islam bagaikan anak yatim. Terasa asing di negeri sendiri. Islam terhina dimana-mana. Semakin berjuang semakin hina sebab berjuang sudah tidak tahu cara dan tidak tahu adab.

    Umat Islam hari ini tahu bahwa Allah adalah Tuhan, namun tidak mencintaiNya seperti mana yang Allah kehendaki. Ibarat seorang manusia telah dipisahkan dari ibu kandungnya semenjak lahir, setelah besar dia hanya tahu dia ibunya tapi susah hendak timbul rasa cinta.

    Salah satu syarat untuk dapat mencintai Allah adalah dengan wasilah seorang Mursyid ( guru yang soleh lagi bertaqwa ) dgn disiplin2 tariqat dan tasawuf sebagai jalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s