Kemiskinan Dalam Sudut Pandang Islam

stopovertynothing.gif

Dalam sudut pandang Islam, kemiskinan terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :

  1. Miskin Iman,
  2. Miskin Ilmu dan
  3. Miskin Harta.

Diantara 3 kemiskinan ini yang paling berbahaya adalah miskin IMAN, yang kedua miskin ILMU dan yang ketiga adalah miskin HARTA.

Miskin IMAN

Yang dimaksud dari miskin Iman adalah orang yang jiwanya tidak ada kontak atau hubungan dengan Allah, atau jika ada hubungan pun terlalu tipis, yaitu hanya ingat pada Allah saat susah saja.

Jadi bila orang jiwanya sudah tidak ada kontak dengan Allah, maka artinya dia sudah tidak memberi Kasih Sayang atau Cinta kepada Allah. Kalau seorang Hamba sudah tidak memberi Kasih Sayang kepada Allah yang telah menciptakannya, maka bagaimana Allah mau memberi Kasih Sayang kepada mereka? Maka akhirnya Allah membiarkan mereka terombang-ambing, hidup sendiri-sendiri, tiada panduan dan pimpinan, dsb.

Inilah yang kita lihat di seluruh dunia ini, peperangan, kemiskinan, perkelahian, bentrokan, krisis, dan berbagai macam kemungkaran yang menyusahkan mereka sendiri.

Miskin ILMU

Manusia kalau ingin hidup, berkemajuan di bidang ekonomi, di bidang sains dan teknologi, dan di bidang yang lain maka mesti ada ilmu. Bagaimana bisa orang ingin hidup, membangun ekonomi, teknologi, dsb tetapi tidak ada ilmu?

Jadi miskin Ilmu ini menjadi penyebab yang kedua mengapa manusia mengalami kesusahan, miskin dan tidak tahu cara menyelesaikan masalah hidup.

Miskin HARTA

Jadi di sini baru kita fahami bahwa miskin harta, ( yakni tak dapat memenuhi makan minum, tak dapat membangun rumah, tak dapat berkemajuan dsb ) adalah BUAH dari manusia yang sudah tidak ada KONTAK dengan Allah dan buah dari manusia yang tidak ada ILMU.

potret-kemiskinan.JPG

Lalu Bagaimana Kaedah Islam Dalam Menyelesaikan Kemiskinan?

Oleh sebab itu jika kita mau memperbaiki dan menyelesaikan masalah kemiskinan, kita tidak cukup hanya memikirkan mengenai miskin harta semata, tapi menyelesaikan perihal miskin Iman dan miskin Ilmu mesti sangat diutamakan.

Jadi kalau begitu ( kemiskinan yang sudah merata diseluruh dunia, kalau kita lihat di Filipina, Malaysia, Indonesia,Thailand, dan seluruh dunia ada, bahkan di Amerika yang sudah maju pun banyak sekali orang miskin ) jika kita mau selesaikan kemiskinan, maka kita tak dapat menyerahkan urusan ini kepada mereka yang miskin. Kenapa?

Analoginya, jika seorang ibu dan ayah melihat anak-anaknya kesusahan, bertengkar, tidak dapat didisiplinkan, bermasalah dsb, maka kita tak boleh serahkan urusan ini pada anak-anak itu. Mestilah urusan ini kita serahkan kepada ibu dan ayahnya.

Demikian juga pada masalah kemiskinan ini, kita tidak dapat lagi menyerahkan kepada mereka yang miskin. Kita mesti berunding dengan orang kaya ( ada harta ), orang yang ada kuasa, dan orang yang ada ilmu.

pray.jpg

Katakanlah misalnya kita pilih mereka yang ada Ilmu, yang dengan Ilmu itu mereka dapat menyelesaikan masalah kemiskinan. Atau kita pilih mereka yang ada harta dan kekuasaan, yang dengan itu mereka juga dapat menyelesaikan kemiskinan. Tetapi jika mereka tidak ada IMAN kepada Allah, maka tidak ada jaminan bahwa mereka akan bertanggung jawab meskipun kita berikan tanggung jawab kepada mereka.

Petikan Dari Kuliyyah Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi. Manila, Philiphina, 1991

Advertisements

9 comments on “Kemiskinan Dalam Sudut Pandang Islam

  1. din saja

    TUHAN, INILAH IKRAR

    bersujud dihadapan-Mu
    adalah kemerdekaan
    akal pikiran

    setelah melewati alam ketaksadaran
    kutemukan satu kenyataan
    bahwa kesadaran merupakan landasan

    dari dada cahaya berpijar
    menembus pikiran
    merambah jalan kepada-Mu

    aku hidup
    aku bebas
    aku sujud
    pada-Mu

    Banda Aceh, 1994

  2. assalammualaikum

    tulisan antum menggelitik saya untuk berkomentar sedikit ustad. ini jadi pikiran saya sudah lama sekali..sejak saya masih remaja… saat itu saya berpikir…diantara miskin ilmu dan miskin harta serta miskin iman mana yang harus didahulukan untuk disembuhkan? karena rasanya sulit menyembuhkan ketiganya bersama-sama.. bukan mustahil memang, namun sulit menurut saya….

    akhirnya setelah saya dewasa saya memilih menyembuhkan miskin harta dan sekali waktu diselingi dengan menyembuhkan miskin iman..dan menafikkan penyembuhan miskin ilmu…karena terus terang menurut saya, miskin harta ini bisa menuju kekufuran..dan ini pengalaman pribadi. bagaimana pendapat antum ustad?

    wassalam

  3. akhirnya.. ketemu pencerahan lagi. Iman memang diatas segala-galanya. sekalipun harta ngga punya, klo punya iman tetap akan berpulang pada Allah. Allah Maha Tahu, toh pada dasarnya ngga miskin-miskin amat. Karena ada Sang Maha Kaya yang menaunginya! Salam kenal dari http://pcmavrc.wordpress.com

  4. wa’alaikum salam wr wb.. 🙂
    yang benar adalah KEFAKIRAN itu dekat dengan kekufuran.Fakir dengan Miskin tidak sama. Fakir, dia menghidupi diri sendir pun tidak bisa, sedangkan miskin dia masih punya harta tetapi seringnya tidak mencukupi keperluannya. Kefakiran ini lah yang mesti kita jauhi…

    Orang yang sudah kuat hubungan hatinya dengan Allah, tauhidnya dalam peringkat penghayatan ( beriman dengan sebenar2 iman ) maka, dalam keadaan apapun yakni miskin atau kaya, maka tiada masalah baginya.Bahkan dengan Kemiskinan itu dia terhibur, sebab dia tahu HISAB-nya nanti di akhirat jauh lebih ringan, bisa dibayangkan berbeda satu peci aja HISABnya bisa 500 tahun ukuran akhirat. Oleh itu jika miskin pun dia redha, sabar, tidak mengeluh, tidak meminta2, tawakkal, dsb. Dan jika kaya dia pemurah, tidak sombong, bertenggang rasa, dsb. Maknanya, miskin atau kaya bukan jadi masalah jika ada iman.Syarat utamanya adanya Iman

    Sebaliknya miskin atau kaya akan jadi masalah jika tiada iman.Jika kaya sombong, pelit, ( korupsi pun masih juga dilakukan walaupun kaya ) dan jika miskin maka akan bersifat tidak redha, tidak sabar, tidak tawakkal, mencuri, merampok, dsb.

    Maka iman adalah bab utama. Sebab tiada jaminan jika seseorang itu kaya lalu ada ilmu kemudian masalah selesai, jika orang tiada iman. Malah bisa bertambah parah masalah.Miskin harta tiada berdosa, bahkan menghapuskan dosa jika kita pandai merespon takdir itu. Tetapi miskin Iman membawa ke Neraka sekalipun punya harta. Jadi sebetulnya kaya maupun miskin bukan masalah, yang menjadi masalah yaitu apabila tiada iman sekalipun kaya.

    Menjelang wafatnya, Rasulullah pernah berdoa kurang lebih ” wahai Tuhan hidupkan aku dalam kemiskinan, matikan aku dalam kemiskinan, dan masukkan aku ke dalam syurga bersama orang2 miskin “. Dan banyak sekali kisah2 salafussoleh dan para sahabat yang memilih hidup miskin di dunia ( mereka bisa saja kaya, tapi tak sempat kaya, sebab hartanya selalu saja habis dalam fisabilillah ) demi kehidupan akhiratnya.

    Allah Dialah Tuhan yang Maha Kaya, Dia lah Tuhan yang memiliki Arsy yang Agung, Dialah tempat kita meminta-minta dan bertawakkal, dan Dialah sumber keselamatan dunia akhirat…

  5. memang, sgala masalah yang timbul saat ini adalah tiadanya didikan ruhani…

    Justru itulah tugas yang menanti anda, bersungguh2 membekali diri dengan taqwa dan mendidik serta membawa masyarakat kepada keselamatan…
    Sudahkah?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s