Susahnya Menjaga Hati, Raja Diri

hearth.jpg

Susahnya menjaga hati. Sedangkan ia adalah tempat pandangan Allah. Ia merupakan wadah rebutan di antara malaikat dan syaitan. Masing-masing ingin mengisi. Malaikat dengan hidayah, syaithan dengan kekufuran. Bila tiada hidayah, ada ilmu pun tidak menjamin dapat selamat, sekalipun ilmu diperlukan

Susahnya menjaga hati. Bila dipuji, ia berbunga. Terasa luar biasa. Bila dicaci, aduh sakitnya. Pencaci dibenci. Bahkan berdendam sampai mati.

Bila berilmu atau kaya, sombong mengisi dada.Jika miskin atau kurang ilmu,
Rendah diri pula dengan manusia.Adakalanya kecewa.Kemuncaknya putus asa.

Pada takdir yang menimpa, kita susah untuk redha. Ujian yang datang, sabar tiada. Jiwa menderita

Melihat kelebihan orang lain, hati tersiksa. Kesusahan orang lain, hati menghina. Bahkan terhibur pula. Suka menegur orang,tapi bila ditegur hati luka

Aduh susahnya menjaga hati. Patutlah ia dikatakan raja diri. Bukankah sifat sombong pakaian Raja?!

 

Bukan mudah menahan marah apabila orang marah kepada kita atau orang membuat kesalahan kepada kita. Bukan mudah tidak membalas terhadap orang yang menganiaya dan memfitnah kita. Sedangkan mereka menyusahkan kita, dan kita pun menderita dibuatnya

 

Tidak mudah menahan perasaan hati agar tidak berbunga ketika ada orang memuji kita Apakah kita boleh menolak pujian itu dengan rasa hati bahwa kita tidak layak menerimanya? Tidak mudah, biasanya hati sedap dan berbunga rasanya

 

Apabila kita berhadapan dengan orang serba istimewa, ada yang kaya, berjabatan tinggi, tinggi ilmunya sedangkan kita orang biasa saja, biasanya kita inferiority complex dibuatnya, malu pun timbul.Dapatkah kita merasa biasa saja, tidak terasa apa-apa?

 

Yang penting kita dengan Tuhan ada hubungan senantiasa, takut dan cinta. Terasa bahagia dengan Tuhan, rasa senang dengan-Nya yang lain tidak ada arti apa-apa Apakah mudah hati kita menahan derita bila mendapat bala bencana? Tidak mudah, biasanya hati kita derita dibuatnya. Kita rasa kecewa, kita rasa orang yang malang hidup di dunia. Kita tidak dapat hubungkaitkan dengan hikmah dan didikan Tuhan kepada kita. Bahkan biasanya selalu saja jahat sangka dengan Tuhan yang melakukannya.Hati kita rasa bahwa tidak semestinya Tuhan menyusahkan kita.

 

Begitu jugalah kalau kita orang istimewa, berilmu, berjabatan tinggi, kaya! Biasanya rasa megah datang tiba-tiba, sombong pun berbunga, mulailah kita menghina. Hidup kita pun mulailah berubah, sebelumnya beragama lupa agama. Kalau dahulu dapat bergaul dengan orang biasa, sekarang kawan kita golongan atas saja . Hendak bergaul dengan orang biasa seperti dahulu rasa jatuh wibawa.

 

Begitulah hati manusia sentiasa berubah-ubah apabila berubah keadaan.Karena itulah kita disuruh berdoa: “Ya Allah tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan mentaati-Mu.”

– Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi –

 

Advertisements

12 comments on “Susahnya Menjaga Hati, Raja Diri

  1. Hati ibarat cermin. Bila kita rajin membersihkannya dari sifat2 mazmumah, sombong, riya, hasad, iri, dengki, gila dunia, tamak, dendam, pemarah, mementingkan diri,dsb maka ia akan senantiasa bersih dan bersinar. Disanalah tempat jatuhnya hidayah dari Allah. Hanya hati yang bersih dan cermerlang saja yang mampu menerima cahaya kebenaran.Pandangan hatinya akan tajam, karena ia memandang dengan cahaya Allah. Inilah hati orang2 Tuhan ( Ahlullah ) yaitu Para Nabi dan Rasul dan juga hati orang2 bertaqwa.

  2. Mengapa sukar untuk memberi maaf apabila hati sudah terguris? Mengapa tidak mahu melupakan bila disakiti? Mengapa tidak tenang dan sering berdendam apabila dihina dan dikeji? ..itu kerana hati bersih belum kita miliki..rendah hati bukan sifat kita..redho dan sabar tiada pada kita..
    Andainya kita memandang segala sesuatunya dariNYA..maka akan damailah hati-hati kita

  3. Ya Allah ya Lathief,
    Kurniakanlah kepada kami hati yang lembut
    Hati yang senantiasa terbuka untuk menerima kebenaran
    Hati yang hidup yang senantiasa mengalirkan kebaikan lewat seluruh anggota tubuh kami
    Hati yang penuh kasih dan sayang serta baik sangka terhadapMu dan terhadap sesama makhlukMu
    Agar selamat setiap gerak laku kami dalam hidup…

  4. hati sekeras batu, bahkan lebih keras dari itu…jka batu terkena tetesan air, walau setetes demi setets tetapi lambat laun akan berlubang juga. Inilah yang disebut ISTIQAMAH dan disiplin dalam mendidik dan membersihkan hati. Tidak cukup setahun dua tahun, tetapi seumur hidup kita. Maka disini perlunya mursyid, yaitu orang hatinya sudah terdidik, sudah bertqwa, dialah yang mampu mendidik dan memimpin hati kita…

    Jowo pinter,,matur nuwun kunjungannya.. 🙂

  5. matur nuwun = terima kasih = thank u .. 🙂

    terkapai2 ini benda apa ya..?adakah sama dengan terkial2?

    tausiyah itu dari guru saya lah…saya hanya penyambung lidah saja… 😉

  6. din saja

    O

    hati
    kuberikan pada manusia
    pikiran
    menuju Tuhan
    lalu
    kuarungi samudera
    sambil
    menebar jala ke segala arah,
    dalam diam kubaca gerak
    dalam gerak kutangkap isyarat
    dalam isyarat kulihat hakikat
    bertemu dingin yang tak kuingin
    – Engkau di atas tak berhingga tak berbatas?
    kucari pada wanita entah tak kusimak dada umara entah tak kubaca jiwa ulama entah tak kulihat aku kecewa dicerca aku pun meronta merambah apa saja tubuh terluka hati semakin menganga aku pun berlari menderu hati dan jiwa pun semakin dingin sadar tak sadar seluruh pikir tak rasa dalam dingin tiada semakin berjarak aku kehilangan arah kehilangan Kau hati bagai singa meronta mencakar mencabik cabik kesendirianku Tuhan berdarah ia menerjang keinsananku ia meronta menembus belantara gelap rimba Mu ia marah tapi bukan kemarahan ia membenci tapi bukan dendam ia memaki tapi bukan kesakitan ia meronta tapi bukan perlawanan ia menjangkau Tuhan mencakar jantung hatiku tercabik dan berdarah ia mencakar cakar keinsananku dengan kalap ia melesat menghampiri diri Mu o tak sederhana hidup semakin jelas Allah!

    Banda Aceh, 1992

  7. Tak kenal maka taaruf dunk…
    yupz…emang susah jaga hati tyuh…
    sering2za dengerin lagu jagalah hatinya snada…

  8. Pingback: Warna Dalam Diri » Blog Archive » Susahnya Menjaga Hati, Raja Diri

  9. hatii….sebatas mana kita bisa memiliki sebuah perasaan yang timbul dari yang namanya hati…katanya fitrah manusia ….lah terus.kadang pikiran tidak bisa mengendalikan hati…susah …pikirannya mau gini eh hatinya gitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s