Kamera CCTV vs Rasa BerTuhan : Mana Yang Lebih Efektif ?

cctv-cam.jpg

 

Beberapa hari yang lalu saya nonton berita siang di salah satu stasiun televisi swasta. Salah satu beritanya adalah tentang penggunaan kamera CCTV ( Closed Circuit Television ) pada gedung-gedung di Jakarta. Memang fenomena CCTV sedang marak akhir-akhir ini. CCTV adalah sistem pengawasan atau monitoring suatu kawasan menggunakan kamera video yang dipasang ditempat-tempat tertentu, dirangkai menjadi sebuah jaringan tertutup dan dapat dipantau dari sebuah ruang kontrol.

Dalam berita itu disebutkan bahwa pemerintah sangat menggalakkan penggunaan kamera CCTV ini, terutama dalam usaha mengurangi tingkat kriminalitas dan juga dimanfaatkan dalam reka ulang tindak kriminal. Pemerintah mengatakan bahwa para pelaku tindak kriminal akan merasa TAKUT dan berpikir dua kali untuk melakukan niat jahatnya, sehingga angka kriminalitas dapat menurun.

Lantas saya terbayang film-film action yang menampilkan suatu adegan dimana seseorang membuat sebuah rangkaian yang dapat memutar berulang2 sebuah rekaman pada kamera CCTV, dengan rekaman orang mondar-mandir, atau orang sedang tidur, atau hanya sekedar ruang kosong saja. Artinya banyak muncul penjahat yang berteknologi, yang dapat menangkis kecanggihan CCTV.

Itu berlaku untuk penjahat yang “cerdik” atau masih punya rasa takut dan malu.Mungkin. Tetapi ada juga yang sudah kebal, ada kamera CCTV pun masih dengan cueknya melakukan kriminal, ada yang pakai topeng, ada yang merusak kamera CCTV dengan cara menembaknya, dengan memukulnya dsb.

crime.jpg

 

Artinya, dengan teknologi CCTV ( yang konon salah satu fungsinya adalah untuk mengurangi kriminalitas ) ternyata “membuahkan” produk teknologi baru sebagai “counter attack” nya. Sehingga dalam hal ini semakin canggih tingkat teknologi keamanan ( savety technology ) maka semakin cangguh pula tingkat kriminalitas ( crime technology ) yang muncul. Apakah ini artinya CCTV bukan sebuah solusi primer? Wah bagaimana ini?ada ungkapan bahasa mengatakan “untung sekarung rugi segunung”.

Saya jadi teringat sebuah sajak karya Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi yang bertajuk ” Setiap Tarikan Nafas Akan Ditanya “

 

Ketahuilah bahwa setiap kerdip mata akan ditanya

Setiap nafas turun naik akan dipersoal

Setiap gerak hati akan dipertanggungjawab

Setiap lirikan mata akan ditulis dan dihisab

Perbuatan itu apakah ke Neraka atau ke Syurga

Betapalah setelah tangan engkau bertindak

Kaki engkau melangkah dan ke mana arah tujunya

Apatah lagi setelah lidah engkau bercakap

Akal engkau berfikir dan bagaimana engkau berfikir

Bagaimana engkau gunakan anggota badan engkau

Begitu juga bagaimana engkau gunakan nikmat di luar diri engkau

Semuanya ini lebih-lebih lagilah akan ditulis, direkam dan dihisab

Apakah ia termasuk perkara yang berdosa atau yang berpahala

Aduh tidak takutkah kita dengan Zat yang Maha Agung

Yang tahu, yang melihat dan yang mendengar seluruh gerak-gerik kita lahir dan batin

Yang akan menghukum kita apakah ke Syurga atau ke Neraka

Tidak cemaskah kita peristiwa itu pasti berlaku

Di suatu hari yang kita akan diadili dengan begitu teliti

Di waktu itu tidak ada siapa pun yang membela kita

Masing-masing memikirkan diri

Bahkan para Rasul dan Nabi alahimussolatuwassalam pun ketakutan

Allah! Allah! Allah!

betapalah kita ini yang memang tidak lepas dari dosa dan kesalahan

Takutilah Allah, rendah dirilah kepada-Nya

Mohon ampunlah setiap masa

Agar setiap dosa dan kesalahan kita diampunkan oleh-Nya

Apakah itu yang kita sadari maupun yang tidak

 

Jika manusia dapat sedemikian rupa, maka baik itu diawasi kamera CCTV maupun tidak mereka tidak akan berani berbuat kejahatan lagi. Dan yang lebih penting mereka tidak berbuat jahat bukan karena kamera CCTV, tetapi karena Allah, yakni lebih karena mereka takut dengan Tuhan dan takut dengan pengadilan Tuhan. Sebab kalaupun mereka tidak berbuat jahat tetapi bukan karena Tuhan, maka tetap tidak ada nilai disisiNya, hanya saja efeknya positif bagi orang lain. Apabila Allah telah ada di hati mereka, rasa berTuhan telah memenuhi lubuk hatinya, rasa takut kepada Allah dibawa kemanapun mereka pergi maka dunia ini aman dan damai.InsyaAllah

Inilah solusi sebenarnya, kunci penyelesai segala masalah. Yaitu apabila manusia sudah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, hingga datang rasa gentar dengan Allah. Hukuman atau undang-undang hanya sebagai pelengkap saja atau sebagai jalan keluar yang terakhir bagi orang2 yang “ngeyel”. Maka dari itu sangat penting mendidik diri kita, keluarga, masyarakat, negara dan dunia dengan iman dan taqwa kepada Allah. Serta yang lebih penting lagi adalah kehadiran seorang pemimpin yang bertaqwa sebagai wakil Tuhan di zaman ini. Yang akan merasakan hasilnya adalah manusia itu sendiri, manusia hidup tentram, aman damai dan berkasih sayang

Dahulu ketika zaman pemerintahan Rasulullah, Khulafaur Rasyidin dan salafussoleh bukan berarti tidak ada kejahatan sama sekali, ada tetapi amat sangat sedikit, bahkan orang-orang yang berbuat jahat, mereka sanggup untuk mengakui kesalahan dan berbondong-bondong menyerahkan diri untuk dihukum, mereka merasa takut dan malu. Mereka lebih takut pada hukuman Allah di akhirat kelak, sehingga mereka lebih memilih dihukum sewaktu masih di dunia ini.

Ingin baca artikel tentang CCTV?silakan klik di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s