Hamba Yang Tertipu Dengan Amal Ibadahnya

Seorang hamba Allah yang dapat menyelesaikan semua perintah Allah tapi kemudian merasa sudah cukup selamat, tenang dengan akhirat dan hilang rasa kehambaan pada Allah, adalah ibarat seorang hamba di istana raja yang dapat melakukan semua pekerjaan yang disuruh lantas ia pergi menghadap raja sambil berkacak pinggang, sombong dengan kemampuannya serta membanggakan diri di depan raja. Sekalipun raja itu seorang yang baik kepada hamba-hambanya, tetapi sikap besar diri, sombong dan bangga dengan kemampuan yang ditunjukkan si hamba itu akan membuat raja marah dan tidak suka. Bila raja marah, semua pekerjaan si hamba tadi tidak akan bernilai lagi.

Sebagai seorang hamba sepatutnya walaupun kerja dapat disiapkan, dia tetap berwatak hamba. Yakni mengadap raja dengan penuh takzim, merendah diri dan takut kalau-kalau kerjanya tidak diterima dan takut akan nasibnya nanti. Maka barulah datang kasih sayang dan belas kasihan raja kepada si hamba tadi.

Demikianlah seorang manusia yang terlalu bangga dengan ibadahnya, dengan kebajikan dan perjuangannya, merasa sudah selamat karena telah menunaikan perintah Allah, rasa sombong karena dapat melakukan sesuatu yang orang lain tidak dapat melakukannya, rasa ujub karena mampu menyempurnakan program perjuangan dakwahnya, pidatonya, pengorbanannya, keberaniannya, gigihnya, maka orang ini sebenamya telah melakukan kesalahan kepada Allah.

Sebab selaku seorang hamba Allah, sepatutya dia senantiasa merasa diri dia hanya hamba, yang mana setiap suatu adalah pemberian Allah, bahkan ibadah-ibadahnya, pengorbanan, jihadnya, pidatonya dan lain-lain pun kalau Allah tidak izinkan niscaya dia tidak akan dapat melakukannya.

Orang yang faham tentu tidak merasa tenang dengan amal ibadahnya. Apa lagi untuk riya’, ujub dan sombong dengannya. Sebab belum tahu Allah terima dan bemilai di sisi Allah. Kalau begitu dia tetap belum selamat dari hukuman dan kemurkaan Allah. Bukan ibadahnya yang menyelamatkan, tetapi rahmat Allah. Kalau susah payah kita beribadah itu, benar-benar ikhlas karena Allah, diiringi pula rasa takut dan cemas kalau-kalau tidak diterima Allah hingga datang kasihan belas Allah, maka selamatlah kita.

Tetapi kalau ibadah itu dilakukan karena sesuatu kepentingan lain, dibangga-banggakan pula, dengan sombong dan besar diri, tentu Allah tidak suka. Mentang-mentang karena ibadah sudah selesai, perangai sudah satu macam, lupa diri yang dia hanya hamba yang semua kekuatan dan kemampuan yang ada bukan hak mutlaknya, tapi karunia Allah dan dapat ditarik balik kapan saja.

Orang seperti ini akan dibenci Allah dan semua ibadahnya tertolak. Dia hanya dapat lepaskan diri kalau dia sanggup bertaubat dan sadar diri selalu bahwa setiap kemampuan dia walaupun untuk rukuk dan sujud itu adalah karunia Allah. Walaupun nampaknya dia yang berusaha, tetapi bukan usaha itu yang dapat menyelamatkan dia dari api neraka.

Kalau begitu maka dia mesti cemas, takut dan bimbang senantiasa terhadap nasibnya dan tentang apa kata Allah padanya. Rasa hina diri, rasa kurang sempurna dan mengharapkan belas kasihan Allah untuk menyelamatkannya. Segala yang ada ialah milik Allah dan kalau dia mendapatkannya, maka itu bukan hak dia tapi hak Allah. Bagaimana seorang dapat berbangga-bangga dengan nikmat orang lain sampai melupakan dan tidak hormat pada tuan yang punya nikmat? Sesungguhnya Allah benci pada hamba-Nya yang begitu.

Sebaliknya Allah suka dan kasihan pada si hamba yang senantiasa rasa kurang sempurna, rasa lemah, takut, cemas, rasa tidak selamat dan mengharap pada Allah, sekalipun amal baktinya tidak banyak dan kurang sempuma. Sepertilah hamba raja yang walaupun kerja-kerjanya kurang sempurna, kemudian datangi mengadap raja dengan penuh adab sopan dan rendah diri, maka tentu raja akan berbelas kasihan padanya. Sebab raja suka pada orang yang berbudi tinggi, berakhlak mulia, walaupun khidmatnya kurang sempuma disebabkan kelemahan-kelemahannya.

Hamba yang paling Allah suka ialah yang dapat menyempumakan semua perintah-Nya dengan baik dan sempuma tapi dalam masa itu tetap rasa tidak selamat, rasa hina diri, rasa takut, rasa malu dan bimbang kalau ibadah tidak diterima. Di samping merasa apa yang dapat dibuat semuanya pemberian dan keizinan Allah. Inilah orang yang tertinggi derajatnya di sisi Allah SWT. Yang selamat di dunia, selamat dari tipuan nafsu dan syaitan dan selamat dari api neraka.

Orang yang paling tidak selamat ialah orang yang sama sekali tidak peduli dengan perintah Allah. Tapi merasa sombong, takabur, tidak takut dengan Allah dan merasa dia dapat selamat di akhirat. Dia merasa aman dari azab Allah. Inilah isi neraka. Orang yang Allah tidak memandang padanya di akhirat nanti.

Perlu diingat bahwa ibadah yang dimaksudkan bukan saja solat, puasa, haji tapi semua perbuatan kita yang kita niatkan karena Allah.

Berikut ada sebuah sajak karya Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi

Advertisements

3 comments on “Hamba Yang Tertipu Dengan Amal Ibadahnya

  1. Ya Allah,

    hamba berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang penuh keraguan, dari amalan yang tertolak, dan dari do’a yang tak di dengar…

    Ya Allah,

    Tiada daya upaya kecuali atas izin-Mu, maka masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang ikhlas dan berserah diri kapada-Mu…

  2. Salam, sekadar cadangan. Lebih elok sekiranya citation dari hadith-hadith sahih dan al-Quran disertakan sekali.

    Sebab bila nak dijadikan hujah, boleh dijadikan bukti ini bukannya hukum ciptaan saudara sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s