Istiqamah, Apakah Semudah Diucapkan…?

Kata Istiqamah sudah sering kita dengar dalam pengajian-pengajian, dalam slogan-slogan, dan bahkan dalam percakapan kita sehari-hari. Tetapi apa sebenarnya makna (yang selaras dengan tindakan) tentang Istiqamah ini? Apakah semudah kita mengucapkannya? Dan apakah sudah benar-benar kita hayati makna Istiqamah itu?

Istiqamah menurut yang didefinisikan oleh Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi adalah “tetap pendirian pada kebenaran, tetap diatas keyakinan yang diwajibkan, berkesinambungan dalam melaksanakan kebajikan yang telah diamalkan”. Artinya perkara-perkara yang mesti kita tinggalkan mesti secara berterusan kita tinggalkan, sedangkan kebaikan-kebaikan yang mesti kita perjuangkan harus kita perjuangkan juga sampai tiada batasnya kecuali tiba kematian. Mungkin masih banyak lagi definisi Istiqamah yang relevan. Akan tetapi disini akan dibahaskan lebih ke arah bagaimana pelaksanaan dari Istiqamah tersebut.

Istiqamah menurut Islam sebenarnya dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Istiqamah Yang Bersifat Lahiriah

Istiqamah yang bersifat lahiriah ini misalnya, kalau kita sudah shalat maka teruslah shalat baik istiqamah dalam hal tepat waktu maupun istiqamah shalat berjamaah (jangan kadang shalat kadang tidak, kadang tahajud kadang tidak, kadang tepat waktu kadang molor, atau bolong-bolong ), kalau sudah bersedekah teruslah bersedekah, kalau sudah berpuasa teruslah berpuasa.Begitu juga pada amalan-amalan lain sekalipun amalan sunat.

Istiqamah yang bersifat lahirah ini pada sebagian orang relatif mudah dilakukan, tetapi pada sebagian orang ada juga yang berat untuk melakukannya. Kadang-kadang amalan itu dilakukan kadang-kadang tidak dilakukan. Sedangkan Istiqamah adalah salah satu ciri keikhlasan seseorang kepada Allah SWT. Artinya apa yang dia amalkan semata-mata untuk Allah dan tidak terpengaruh oleh lingkungan apalagi terpengaruh karena pujian dan sanjungan orang. Artinya dia beramal bukan sewaktu ada orang yang melihat, ada orang yang minta atau karena “malu” kepada orang, dan bukan karena agar dianggap sebagai orang alim, dsb.

2. Istiqamah Yang Bersifat Ruhaniah atau Maknawiah atau Batiniah

Jika Istiqamah yang bersifat lahiriah yang relatif mudah pun susah untuk diamalkan maka Istiqamah yang bersifat Ruhaniah atau Batiniah lebih susah lagi diamalkan. Sebagai contoh mudahnya begini :

Takut kepada Allah adalah perintah, tetapi hati kita kadang-kadang takut kepada Allah kadang-kadang bukan saja tidak takut tetapi lupa kepada Allah. Tidak takut kepada Allah inilah akar dari kejahatan.

Terkadang hati kita merasa diawasi oleh Allah sehingga datang rasa takut, tetapi sering juga mata kita melirik sana sini tanda hati kita tidak terasa diawasi Allah.

Mencintai Allah adalah perintah, tetapi perasaan kita kadang cinta kadang hambar, sehinga apabila kita tidak cinta kepada Allah Yang Maha Mencipta bagaimana kita dapat mencintai makhluknya?

Keyakinan-keyakinan kepada hal-hal yang diwajibkan kadang teguh kadang goyah, misalnya dalam hal rizki, masa depan, nasib, alam ghaib, rukun iman dsb

Rasa kehambaan (tawadhuk, rendah hati, dsb) kadang muncul kadang pula kesombongan dan ego yang mengisi hati kita.

Kadang bertenggang rasa atau peduli dengan sesama, adakalanya hati kita berkata apa peduliku dengan mereka?

Ukhuwah dan kasih sayang sesama manusia, kadang ada kadang hilang sehingga saling benci-membenci dan dendam, tidak mau memaafkan dan juga tidak mau memberi maaf.

Kadang kita beramal untuk Allah tetapi terkadang pula datang riya’, ujub dan bangga diri yang artinya kita bukan beribadah semata-mata untuk Allah lagi tetapi untuk diri kita atau untuk manusia.

Terkadang kita rasa lezat dalam shalat tetapi sering pula kita tidak istiqamah menjaga kekhusukannya kita, pikiran kita melayang-layang entah kemana sehingga Allah yang sedang kita sembah kita lupakan.

Dan lain – lain

Itulah beberapa bukti susahnya Istiqamah. Maka dalam kitab-kitab tasawuf disebutkan bahwa Istiqamah ini adalah amalan dan sifat dari para Wali Allah serta orang-orang bertaqwa lainnya. Bahkan menjadi syarat seseorang itu mendapat derajat Taqwa.Dalam kitab juga disebutkan bahwa kita jangan meminta kewalian kepada Allah tetapi mintalah agar dapat Istiqamah.

Istiqamah ini sangat diperintahkan bahkan wajib hukumnya. Biarlah amalan kita kecil atau sedikit tetapi Istiqamah dari pada banyak tetapi tidak Istiqamah. Lebih baik sedekah 500 perak tiap hari dari pada sedekah 1 juta tetapi tidak Istiqamah. Sekian. Semoga Bermanfaat.Amin.

Wassalam

Advertisements

6 comments on “Istiqamah, Apakah Semudah Diucapkan…?

  1. Yah… istiqamah adalah perjuangan yang berat. Perang melawan pikiran, perang melawan gemerlap duniawi, menempatkan hak milik dan hasil kerja keras sebagai rezeki yang baik yang dihadiahkan Allah kepada kita dan menjadi tugas kita untuk bermanfaat bagi sesama.
    Juga dalam beribadah… istiqamah mudah dikatakan, berjuang dari detik ke detik untuk bisa berada pada titik-titik impian. Saya sering merasa malu dan rasanya selalu kalah…. tapi saya tak boleh putus asa atas rahmatNya, tak boleh terlena di terminal ini….

  2. terkadang keyakinan dan akidah kita pu belum sempurna. kurang yakin akan kerja2, dan peranan Allah dalam hidup kita..
    Hanya teori bukan dihayati..
    😦

  3. Istiqamah ini adalah sifat orang bertaqwa/waliyullah. Tanpa mujahadatunnafsi & mujahadatussyaitan tentu istiqamah ini lari jauh dari diri kita.Wallahu a’lam

  4. saya pernah membaca sebuah kisah seorang wali Allah. Selama 40 tahun dia bermujahadah untuk mendapatkan maqam shalat khusyuk ( istiqamah yang sifatnya ruhani ). Akhirnya di penghujung dia “dianugerahkan” juga rasa khusuk oleh Allah, itupun pada rakaat terakhir shalatnya. Selepas itu dia meninggal dunia.

    Tanpa bantuan dan pimpinan Allah rasanya mustahil kita mendapat maqam istiqamah. Kita hanya dapat berusaha tapi Allah-lah yang menganugerahkan kepada siapa2 yang dikehendakinya.

  5. keistiqamahan seseorang seringkali dikaitkan dengan kondisi di lingkungan sekitar… manakala seseorang itu berada pada komunitas/lingkungan yang baik, maka besar kemungkinan orang itu akan lebih mudah untuk beristiqamah…

  6. Saya ingin menambahkan komentar saudara Heri, bahwa lingkungan berfungsi sebagai pendukung atau alat saja.Memang itu tidak dapat kita pungkiri.Tetapi lingkungan bukan motivasi yang utama, lingkungan bukan faktor utama. Adakalanya seseorang itu terlihat sangat menjaga disiplin,sangat istiqamah tetapi ternyata hanya disebabkan karena dia berada pada lingkungan yang memang mendukung, malu dengan teman, takut dikatakan menyeleweng, biar dikatakan alim, dll.

    Banyak berita yang sering kita dengar ada seseorang yang terkenal baik ( disiplin, shalat di awal waktu, rajin mengaji, dsb ) ketika dihadapan orang tua, atau di kampung halamannya, tetapi ketika di luar atau berada di kota besar, tiba-tiba menjadi penjahat, pergaulan bebas, atau nilai2 disiplin yang dulu ada semakin luntur bahkan hilang.

    Orang Eropa dan Jepang, mereka sangat berdisiplin, sangat istiqamah menjaga kebersihan. Bahkan orang Islam kalah bersih dengan mereka. Tetapi sayang, mereka melakukannya bukan karena Tuhan, tetapi hanya karena lingkungan, atau paling banter karena fitrah, yang namanya fitrah manusia memang suka akan kedisiplinan dan kebersihan, dan hal2 baik lainnya.
    Orang yang istiqamah karena lingkungan sangat mudah teruji dan tidak tahan uji, serta masih jauh dari ikhlas lillahi ta’ala.

    Lalu istiqamah seperti apa yang betul? Yaitu istiqamah yang bertunjangkan IMAN yang kukuh, yang bertunjangkan rasa Cinta dan Takut kepada Tuhan yang mendalam.Istiqamah seperti ini tidak akan luntur walaupun dalam keadaan apapun. Orang seperti ini ibarat ikan di lautan, dia tidak ikut asin walaupun tempat hidupnya air asin. Seperti itulah orang berIMAN dan berTAQWA, mereka tidak tercorak oleh suasana tetapi justru mencorak suasana.

    Kita sering mendengar kisah2 para Nabi dan Rasul dan juga para sahabat. Nabi Yusuf, digoda oleh perempuan cantik jelita dan kaya, Zulaikha, tetapi beliau tak tertarik sedikitpun karena takut kepada Tuhannya. Nabi Zakaria, beliau digergaji hidup2 oleh umatnya sendiri, tetapi saat itu Allah berfirman melalui malaikat “jika engkau menjerit ( mengeluh ) maka akan Allah mencabut kenabianmu”. Sayidina Bilal, disiksa habis2an oleh kaum kafir agar keluar dari Islam, tetapi beliau tidak terpengaruh walaupun hanya ucapan “ahad..ahad..” yang dapat beliau lakukan. Mampukah kita seperti mereka?
    Hanya para Muqarrabbin dan Siddiqqin yang mampu berbuat seperti itu, mereka2 yang berhati besi, kuat jiwanya, berjiwa besar, dan kuat keyakinan kepada Tuhannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s