Guru Mursyid dan Seorang Pemuda

Di dalam sebuah majelis ilmu yang diadakan di sebuah tempat di negeri Tanjungmalaya, seperti biasanya telah berkumpul puluhan orang yang duduk lesehan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang berjubah dan berserban sangat rapi berwarna hijau atau putih, tak hanya itu mereka juga harum-harum baunya. Sungguh sebuah pemandangan yang akan membawa kita, setidaknya membayangkan, pada majelis-majelis salafussoleh jaman dahulu ketika Islam masih dalam kejayaan. Dalam majelis itu, dengan seksama, khusuk dan tadaruk, mereka menyimak curahan ilmu dari seorang Syeikh yang tengah duduk dihadapan mereka.

Syeikh itu terlihat juga memakai jubah dan serban berwarna hijau tua, serbannya seolah mahkota yang bertahta mrnghiasi kepalanya. Hanya saja perbedaan dengan pakaian murid-muridnya, beliau memakain kain semacam selendang yang dinamakan rida’, berwarna hijau, yang menandakan bahwa beliau adalah seorang Syeikh sekaligus Mursyid. Memang sungguh rapi dan enak dipandang. Sangat pas dengan postur tubuhnya yang tegap tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu pendek, beliau terlihat gagah dalam pakaian sunnah Nabi tersebut. Di dahinya membekas sujud-sujud beliau yang panjang. Jenggotnya terawat dengan rapi tapi tidak terlalu panjang, beberapa helai uban sudah menghias, menambah kewibawaan yang memang sudah dimilikinya sebagai seorang pemimpin. Usianya mungkin hampir 60 tahun. Masih muda untuk ukuran Syeikh dengan ribuan orang murid di seluruh dunia.

Sesekali beliau melemparkan senyuman ke arah hadirin, senyuman yang membuat siapapun merasa tentram, bagaikan embun membasahi hati yang gersang, yaitu senyuman kasih sayang dari seorang mursyid kepada anak-anak muridnya. Tapi sesekali pula beliau terlihat terlalu sedih, berkerut keningnya bahkan menangis ketika mengingat bagaimana sehari-hari manusia tidak mempedulikan Yang Maha Baik, yaitu Tuhan amat sangat kasih kepada manusia bahkan tidak pernah sedetik pun Dia lupa pada hamba-hamba-Nya. Beliau juga kerap menangis apabila mendengar berita ada orang yang mati dalam keadaan tidak Islam, beliau takut apabila Tuhan kelak akan menggugatnya dan meminta pertanggungjawabannya atas hal itu.

Banyak diantara muridnya merasakan bahwa dengan memandang wajah Syeikh itu akan dapat mengingatkan mereka pada akhirat, mengingatkan mereka pada dosa-dosa. Sebuah bentuk pengajaran tanpa berkata-kata. Dalam bahasa tasawuf hal-hal ajaib seperti ini dinamakan karamah maknawi, yaitu keistimewaan yang Tuhan berikan kepada seseorang jika sudah mencapai derajat ketaqwaan yang tinggi. Sedangkan untuk derajat nabi dan rasul disebut mukjizat. Memang benar, pada wajah Syeikh itu tercermin sekali perasaan cinta dan takut kepada Tuhan yang amat sangat, wajah penuh keinsyafan yang mencerminkan rasa kehambaan yang luar biasa.Gerak geriknya sungguh halus dan sopan, kata-katanya penuh hikmah dan menentramkan pendengarnya, singkat tapi padat bermakna seolah-olah terdapat ilmu dalam ilmu. Sungguh sosok ulama pewaris Nabi yang disayangi dan dikasihi murid-muridnya.

Sekilas majelis itu berjalan sederhana, tidak ada yang istimewa. Bahkan sangat bersahaja. Tetapi mereka amat meyakini kata-kata Rasulullah yang pernah disampaika oleh Syeikh bahwa majelis ilmu yang dilakukan karena Allah maka akan dinaungi sayap-sayap malaikat yang senantiasa mendoakan orang-orang di dalamnya, bahkan ikut juga mendoakan seluruh ikan-ikan di lautan.

Tetapi kali ini ada sedikit yang berbeda dalam majelis ilmu tersebut. Mereka kedatangan seorang tamu. Memang sering tamu-tamu berdatangan pada mejelis itu, tapi kali ini berbeda. Tamu itu adalah seseorang pemuda dengan rambut gondrong, memakai kaos oblong hitam dan jelana jeans ala rocker yang ada sedikit sobekan di bagian pahanya. Badannya penuh dengan aksesoris mulai dari piercing, kalung, sampai beberapa buah tato terlihat ketika dia melepas jaket kulitnya. Orang umum mungkin agak seram juga melihatnya, mungkin sebagian juga berfikir bahwa tamu itu seorang preman. Usut punya usut, ternyata tak hanya preman, tapi dialah boss preman di wilayah itu, anak buahnya mencapai ratusan orang. Lantas untuk apa orang itu datang ke majelis tersebut?Secara penampakan, orang tersebut sungguh bagaikan kerikil diantara mutiara-mutiara.

Tetapi sungguh tak disangka-sangka, Syeikh malah mempersilakan orang itu duduk di depan,bahkan hampir bersebelahan dengannya. Setelah majelis dibuka oleh salah satu murid, Syeikh kemudian menyalami dan menempuk bahu pemuda tadi sambil mengucapkan selamat datang kepadanya. Syeikh berkata sambil tersenyum, ”Kedatangan tamu adalah membawa rahmat dan kepulangannya menghapuskan dosa, mudah-mudahan dengan kedatangan tuan ini kita semua mendapat rahmat dari Tuhan dan ampunan atas dosa-dosa kita”. Pemuda itu tak dapat berkata apa-apa saat itu, hanya seulas senyum saja.Wajahnya tertunduk malu”. “Ada maksud apakah tuan datang ke majelis kami, apa yang boleh kami bantu untuk tuan?” lanjut Syeikh. Dengan polos, Pemuda itu menjawab,”Saya ingin belajar sholat Syeikh, tapi saya ini dimana-mana dianggap sampah masyarakat, dikucilkan. Beberapa orang sudah saya datangi tetapi respon mereka dingin, saya sedih, saya rasa saya sudah terlalu banyak dosa, hampir semua jenis kejahatan pernah saya lakukan, ingin sekali saya kembali ke jalan yang lurus sebelum terlambat. Saya sangat berterimakasih kepada Syeikh dan murid-murid Syeikh. Di sini, walaupun baru pertama kali saya mendapatkan perasaan bahagia, entah mengapa, disini saya dilayan, dihargai dan diperhatikan”. “Alhamdulillah…”, kata Syeikh. Tampak keharuan dan bahagia pada wajah beliau.

Majelis ilmu kemudian dimulai, seperti biasa Syeikh memberikan curahan mutiara ilham kepada hadirin. Hebatnya beliau tidak membuka kitab ataupun sebagainya. Tetapi ilmu beliau mengalir begitu saja menelusuri relung-relung hati pendengarnya. Sungguh luar biasa, mungkin ini juga yang disebut karamah maknawi. Karena Allah berjanji kepada orang-orang bertaqwa bahwa “ Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajar kamu”. Sebagai seorang mursyid, beliau tahu hati anak-anak muridnya, ibarat seorang dokter spesialis, tetapi mursyid adalah dokter spesialis ruhani yang mengobati penyakit-penyakit hati atau mazmumah pasiennya. Mursyid melihat dengan kasyaf, yaitu pandangan hati yang tajam yang dimiliki oleh orang-orang bertaqwa, tak heran jika setelah pulang dari majelis banyak dari hadirin memperoleh pencerahan yang luar biasa, separuh dari masalah mereka selesai tanpa mereka bertanya solusinya.

Dalam majelisnya Syeikh sering mengajarkan bahwa, Tuhan adalah Cinta yang Maha Agung. Bila kita mendapat Cinta Tuhan artinya kita mendapat segala-galanya, karena Tuhan adalah pemilik segala-galanya. Tetapi bila kita tidak mendapat Cinta Tuhan maka hidup kita tak ada artinya lagi walaupun kaya, ganteng dan terkenal. Hidup serasa semu, bagaikan mati sebelum kematian. Hidup tanpa pimpinan dan tujuan sungguh menyakitkan, di dunia merana di akhirat terlebih lagi. Apabila Cinta kepada Tuhan tidak ada maka mustahil akan berkasih sayang sesama manusia, maka berujung kepada musnahnya kasih sayang dan keharmonisan manusia itu sendiri. Siapa yang dapat mencintai Tuhan maka akan datang perasaan takut, perasaan diawasi oleh Tuhan, perasaan takut inilah yang dapat membentengi kita dari perbuatan jahat dan dosa. Barang siapa yang dapat merasakan Maha Kasihnya Allah pada hamba-hamba-Nya, bahwa Allah tidak pernah lupa sedetik pun memberi nikmat serta menjaga si hamba, maka akan datang rasa malu dalam hatinya. Syeikh menyebut perasaan ini sebagai “RASA BERTUHAN”. Apabila Rasa berTuhan ini subur pada hati manusia maka apapun perintah Allah, misalnya Sholat, menutup aurat, tidak berzina, dsb, akan mudah untuk dilakukan. Karena dilakukan atas dasar cinta. Tetapi bagaimana untuk dapat cinta? Pepatah berkata “tak kenal maka tak cinta. Maka kuncinya adalah mengenal Allah dengan benar dan mengenal siapa diri kita sebenarnya. Sabda Nabi SAW, “ Awwaluddin Ma’rifatullah” yaitu Permulaan agama adalah mengenal Allah. Begitulah yang Islam ajarkan.

Seperti biasa, majelis tidak memakan waktu lama, sekitar 1 jam saja. Majelis ilmu itu ditutup dengan doa dan tak lupa ulasan dari beberapa hadirin yang meluahkan berbagai perasaan yang mereka dapatkan. Tak ketinggalan pemuda tadi pun terlihat memikirkan dan berusaha mencerna apa yang baru saja diberikan oleh Syeikh. Dia sudah terlupa bahwa tujuan awal dia ke majelis itu adalah untuk belajar Sholat. Kini dia malah diajak untuk menagih Cinta Yang Maha Agung, diajak mengenal Zat Yang Maha Agung. Dalam renungannya seolah-olah ada suara membisik, “Aku memang tak masuk akal,untuk apa aku sholat dan menyembah Allah jika aku tidak kenal siapa yang aku sembah, dan aku lakukan dengan terpaksa atau aku lakukan bukan atas dasar cinta?”

Akhirnya, majelis demi majelis diikuti oleh si Pemuda. Dia cukup merasa heran juga kenapa Syeikh tidak juga mengajarinya Sholat?tanyanya dalam hati. Akhirnya dia mencoba bertanya-tanya ilmu tentang Sholat kepada murid-murid Syeikh. Dia pun mulai dekat dengan mereka. Dia mulai curhat beragai masalah yang dihadapinya, pengalamannya dulu dan sebagainya Sampai suatu ketika, tiba-tiba hatinya merasa aneh dan risih dengan dirinya, aneh dengan cara berpakaiannya, dengan rambutnya dan semua penampilannya terlebih lagi aneh dngan sifatnya dan tabiatnya dahulu. Timbul perasaan segan kepada murid-murid Syeikh yang lain, mereka rapi-rapi, sopan, harum lagi, sedangkan aku? “Katanya mau ikut Rasulullah?” hatinya menasehati.

Akhirnya pada majelis berikutnya dia memberanikan diri bertanya dan meminta izin kepada Syeikh. Setelah melihat ada peluang, diapun mendekati Syeikh, lalu dengan nada ragu dia bertanya, “ Syekih saya cukur rambut ya?”.Pertanyaan simple dan terdengar menggelikan. Syeikh hanya tersenyum sambil berkata, “ Tidak, tidak usah…”. Jawaban itu membuat si Pemuda keheranan, tapi dia juga takut untuk membantah. Selama tiga hari berturut-turut si Pemuda itu tak bisa tidur karena tiga hari itu juga dia menanyakan hal yang sama kepada Syeikh, dan dia mendapatkan jawaban yang serupa. Semakin heran dan penasaran lah si Pemuda. Sampai akhirnya si Pemuda tidak tahan.

Akhirnya pada hari keempat terjadi sesuatu yang ajaib. Si Pemuda datang dengan rambut yang sudah rapi dan sebuah songkok putih menghiasi kepalanya, bajunya pun sudah kemeja rapih tersetrika, harum lagi. Wah..wah..!Dia terlihat agak canggung juga denga penampilan barunya.

Saat majelis berlangsung, rupanya Syeikh mengamati perubahan pada diri si Pemuda, kemudian dengan wajah suka cita dan terseyum lebar Syeikh berkata,”Naah…kalo seperti itu kan bagus…!” Dengan terkaget-kaget si Pemuda tahu bahwa yang dimaksud adalah dirinya, maka dengan tersipu-sipu kemudian dia berkata,” Iya Syeikh terimakasih, tapi kenapa waktu saya minta izin kepada Syeikh untuk mencukur rambut saya Syeikh malah berkata, tidak usah..?saya heran dan tidak habis pikir kenapa Syeikh melarang saya?”. Jawab Syeikh dengan lemah lembut, “ Begini nak, saya tidak melarang, hanya saja saya tidak ingin kamu mencukur rambut atau berpenampilan rapi seperti itu karena saya, atau karena takut denga saya, tapi saya ingin kamu begitu hanya karena Allah dan atas dasar kesadaran kamu sendiri.” Si Pemuda mengangguk-angguk tanda setuju. TSofASIAMAT

Advertisements
By aboutmiracle Posted in KISAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s